Jumlah warga Malaysia yang terdiagnosis mengalami gangguan depresi mencapai satu juta orang pada Selasa, 21 April 2026. Angka tersebut menunjukkan kenaikan signifikan sebesar dua kali lipat dibandingkan data pada 2019 berdasarkan laporan terbaru otoritas kesehatan setempat.
Lonjakan drastis dalam kurun waktu empat tahun tersebut diungkapkan oleh Dosen Senior Departemen Psikologi Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia, Dr. Wan Nurul Izza Wan Husin. Ia memaparkan data tersebut dalam acara International Symposium on Multidisciplinary Studies di Jakarta.
Dilansir dari Medcom, laporan Malaysia National Health and Morbidity Survey 2023 dari Kementerian Kesehatan Malaysia menjadi rujukan utama temuan ini. Data tersebut menunjukkan tren pemburukan kondisi kesehatan mental masyarakat yang cukup masif di negara tetangga tersebut.
Dr. Izza menyoroti tingkat keparahan kondisi psikis para penderita di mana separuh dari total pasien terdiagnosis dilaporkan pernah memiliki keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Hal ini mempertegas risiko fatal yang membayangi penderita depresi jika tidak ditangani segera.
"Separuh dari mereka pernah memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri," ujar Dr. Wan Nurul Izza Wan Husin, Dosen Senior Departemen Psikologi UPSI. Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan peserta simposium yang berlangsung di Auditorium Universitas Ary Ginanjar, Jakarta Selatan.
Merujuk pada data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terdapat satu juta kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia setiap tahunnya. Mayoritas kasus tersebut memiliki kaitan erat dengan masalah depresi yang gagal dideteksi atau tidak mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini menempatkan depresi sebagai penyebab disabilitas ketiga di dunia. Para ahli kesehatan memproyeksikan bahwa gangguan kesehatan mental ini berpotensi naik ke peringkat pertama sebagai beban penyakit global pada tahun 2030 mendatang.
Dr. Izza juga menekankan pentingnya konsep kesejahteraan psikologis yang mencakup penerimaan diri dan kemampuan membangun hubungan bermakna. Menurutnya, kesehatan sejati tidak hanya diukur dari absennya penyakit fisik seperti diabetes atau hipertensi, tetapi juga ketenangan jiwa.
Selain aspek kesehatan individu, kecerdasan emosional (EQ) disebut memiliki peran krusial dalam kepemimpinan. Riset menunjukkan pemimpin dengan EQ tinggi lebih efektif dalam mengelola emosi diri dan membangun kepercayaan tim dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan kecerdasan intelektual (IQ).
Kemampuan resiliensi atau ketangguhan jiwa menjadi poin penutup dalam pemaparan tersebut. Masyarakat diimbau untuk fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan, seperti respons personal dan usaha mandiri, guna mencegah stres berlebih akibat faktor eksternal yang tidak menentu.