Langkah-langkah yang diambil pemerintahan Amerika Serikat, seperti pengurangan dana dan staf penelitian, menimbulkan kekhawatiran akan merosotnya posisi negara tersebut sebagai pemimpin global di bidang sains. Kebijakan ini dinilai memusuhi sains, dengan pemangkasan puluhan miliar dolar pendanaan, pembatalan lebih dari 7.800 hibah penelitian, serta pemutusan hubungan kerja 25.000 ilmuwan dari berbagai lembaga pemerintah, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.
Analisis terbaru menunjukkan bahwa 'perang' terhadap sains ini dapat melemahkan status AS yang telah bertahan selama puluhan tahun sebagai pemimpin investasi riset dan pengembangan sejak akhir Perang Dunia II. Situasi ini berpotensi menjadi bumerang bagi Amerika Serikat, di mana terjadi eksodus pakar (brain drain) yang mengkhawatirkan.
Pada saat yang sama, China justru menunjukkan peningkatan drastis dalam anggaran Litbang mereka. Menurut Futurism yang dikutip Detik iNET, Minggu (29/3/2026), kondisi ini membuka peluang besar bagi China untuk melesat maju di kancah ilmiah global.
China, dengan populasi empat kali lipat lebih besar dari AS, memiliki dukungan kuat terhadap sains. Negara ini mencetak lulusan bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) dua kali lipat lebih banyak dibandingkan AS, dan hampir menggandakan jumlah lulusan program doktoral (PhD), seperti yang disoroti oleh The Atlantic.
Meskipun kuantitas karya ilmiah tidak selalu menjamin terobosan, skala besar ilmuwan terdidik di China dan intensitas riset mereka kemungkinan akan memberikan keunggulan signifikan atas AS yang sedang berada dalam posisi rentan.
Mengukur secara langsung apakah China akan menyalip AS sebagai negara adidaya sains mungkin masih sulit, mengingat pengakuan pencapaian ilmiah sering kali membutuhkan waktu panjang. Namun, beberapa indikator awal sudah terlihat jelas.
Pada akhir tahun 2026, kontribusi China terhadap Nature Index, sebuah indeks yang melacak riset-riset teratas di jurnal-jurnal ilmu alam dan kesehatan, diperkirakan akan mencapai dua kali lipat dari kontribusi AS.
Pemerintah China juga telah berkomitmen untuk meningkatkan total pengeluaran Litbang setidaknya tujuh persen selama lima tahun ke depan. Komitmen ini berarti akan ada dana tambahan miliaran dolar per tahun yang siap dimanfaatkan oleh para ilmuwan mereka.
Contoh nyata dari kemajuan ini adalah program luar angkasa China yang berkembang pesat. Dalam dua dekade terakhir, China berhasil mengirimkan empat wahana robotik ke Bulan dan memiliki ambisi untuk mendaratkan astronaut pertama di sana sebelum dekade ini berakhir. Kemajuan pesat ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan politisi AS bahwa China dapat mengalahkan NASA dalam misi kembali ke Bulan.