Kekayaan Pendiri Kingston Melonjak Karena Permintaan AI

Kekayaan David Sun dan John Tu, pendiri Kingston Technology, meningkat 44% berkat tingginya permintaan memori dari perusahaan AI.

Permintaan tinggi dari raksasa kecerdasan buatan (AI) mendorong kekayaan dua pengusaha produk memori, David Sun dan John Tu, melonjak tajam tahun ini. Sun (74) dan Tu (84) merupakan pendiri sekaligus pemilik dengan masing-masing 50% saham di Kingston Technology, produsen terkemuka computer drive dan modul memori.

Perusahaan yang berbasis di California ini memiliki Sun sebagai kepala operasional, sedangkan Tu menjabat sebagai presiden dan CEO. Bloomberg Billionaires Index mencatat kekayaan bersih mereka masing-masing meningkat 44% sejak awal Januari, atau hampir mencapai USD 14 miliar (sekitar Rp 235 triliun).

Selain Elon Musk (CEO Tesla dan SpaceX), Michal Strnad (CEO Czechoslovak Group), dan Carlos Slim (taipan Meksiko), Sun dan Tu mencatatkan perolehan kekayaan yang lebih besar dibandingkan tokoh lain tahun ini. Kenaikan kekayaan Sun dan Tu bahkan melampaui Jim, Alice, dan Rob Walton, para pewaris Walmart, yang mencatatkan kenaikan sekitar USD 13 miliar per orang.

Total kekayaan dua taipan memori ini mencapai sekitar USD 45 miliar (Rp 775 triliun), sehingga menempatkan mereka di peringkat ke-45 dan ke-46 dalam daftar orang terkaya dunia saat ini. Bloomberg melaporkan bahwa Sun dan Tu lahir di Taiwan dan China daratan, menempuh pendidikan teknik elektro, dan beremigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1970-an.

Keduanya bertemu di Los Angeles dan menjalin persahabatan melalui bola basket, yang kemudian menginspirasi mereka untuk merintis bisnis bersama. Pada tahun 1982, mereka mendirikan perusahaan perangkat memori, Camintonn, dan menjualnya empat tahun kemudian seharga USD 6 juta.

Setelah kehilangan seluruh tabungan dalam peristiwa Black Monday tahun 1987, mereka kembali bangkit dan mendirikan Kingston. Pada tahun 1996, mereka menjual 80% sahamnya kepada SoftBank senilai USD 1,5 miliar, namun kemudian membelinya kembali seharga USD 450 juta pada tahun 1999.

Perusahaan hyperscaler AI saat ini tengah berlomba-lomba mencari chip memori untuk membangun data center, yang menyebabkan kelangkaan global dan mendorong harga melambung tinggi.

Kondisi ini disebut sebagai "siklus super memori" dan diprediksi akan meningkatkan pendapatan serta laba bagi perusahaan produk memori. Hal ini juga mendorong kenaikan harga saham mereka dalam beberapa bulan terakhir. Saham Micron Technology, contohnya, naik lebih dari empat kali lipat selama 12 bulan terakhir, sehingga nilai produsen chip memori ini mencapai USD 470 miliar.

Recommended