Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk, Bali, mengalami kemacetan panjang. Antrean kendaraan dilaporkan mencapai 32 kilometer, menyebabkan sejumlah pemudik mengalami kelelahan.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Aan Suhanan, menjelaskan bahwa kemacetan ini disebabkan oleh ketidakmampuan pelabuhan Gilimanuk dalam menampung lonjakan volume penumpang dan kendaraan.
Peningkatan volume tersebut dipicu oleh libur Lebaran yang berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Banyak masyarakat yang hendak keluar Bali memilih untuk melakukan perjalanan lebih awal sebelum pelabuhan ditutup sementara selama Hari Raya Nyepi.
"Ini kan berdekatan liburan Nyepi kemudian libur Lebaran. Ini memang ada peningkatan volume. Volume dari Gilimanuk, ini ada peningkatan yang menuju Jawa," ujar Aan kepada detikcom, Senin (16/3/2026).
Aan menambahkan, selama tiga hari terakhir, terjadi peningkatan jumlah masyarakat yang ingin menyeberang ke Bali dari arah Denpasar dan Buleleng. Puncaknya terjadi setelah adzan maghrib hingga menjelang dini hari.
"Dari Denpasar, dari Buleleng itu terus tambah. Jadi saya lihat polanya itu setelah Maghrib, kemudian menjelang pagi ada peningkatan. Polanya seperti itu setelah taraweh itu ada kenaikan lagi," ujar Aan.
Selain itu, masih banyak truk sumbu 3 ke atas yang beroperasi, semakin memperparah kondisi jalan yang sudah tidak mampu menampung volume kendaraan yang ada.
"Di satu sisi truk angkutan sumbu 3 ke atas juga masih banyak yang beroperasional, sehingga kapasitas jalannya sudah tidak mampu menampung itu," ungkap Aan.
Aan juga menyoroti infrastruktur pelabuhan yang terbatas. Kapasitas lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk tidak sebesar Merak-Bakauheni. Jumlah dermaga yang tersedia hanya 8 unit di kedua sisi, dan armada kapal besar juga terbatas.
"Di sini kan ada 8 dermaga di sisi Gilimanuk dan di sisi Ketapang. Kemudian kapal yang 2.000 GT ke atas ini hanya ada 8-9, selebihnya kapalnya kan 2.000 ke bawah. Jadi kapasitas angkutnya memang sedikit," kata Aan.
Pelabuhan Gilimanuk menjadi satu-satunya gerbang keluar masuk Pulau Bali, sehingga seluruh arus lalu lintas terpusat di sana. Berbeda dengan Pelabuhan Merak dan Bakauheni yang memiliki pelabuhan penyeberangan alternatif di sekitarnya, sehingga beban lalu lintas dapat dibagi.
"Terus kalau di sisi Gilimanuk ini nggak ada dermaga alternatif, kalau di Merak-Bakauheni itu kan banyak ada 3 atau 4 jadi bisa dibagi-bagi," sebut Aan.