Kemendikdasmen Atasi Kendala TKA SMP 2026 Akibat Listrik dan Banjir

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mengatasi kendala mati listrik dan banjir saat Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMP 2026. Siswa terdampak akan mengikuti TKA…

Sejumlah sekolah menghadapi berbagai hambatan dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMP 2026, seperti pemadaman listrik dan kondisi banjir. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan bahwa kendala tersebut telah ditangani, dan bagi siswa yang terdampak akan diberikan kesempatan untuk mengikuti TKA susulan, demikian dilansir dari Medcom.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyatakan bahwa laporan mengenai pemadaman listrik dan masalah jaringan internet dari daerah telah berhasil diatasi. Pernyataan tersebut disampaikan Toni di Jakarta pada Selasa, 7 April 2026.

Meskipun demikian, Kemendikdasmen berencana untuk terus menjadikan isu kelistrikan sebagai perhatian utama di masa mendatang. Koordinasi dengan PT PLN akan diperkuat sebagai bagian dari langkah evaluasi guna memastikan kelancaran pelaksanaan TKA berikutnya.

Selain masalah listrik, Toni Toharudin juga menjelaskan bahwa terdapat sekolah yang terkendala banjir saat menyelenggarakan TKA. Pihaknya telah mengalihkan jadwal bagi sekolah yang terendam banjir atau siswa yang tidak dapat hadir karena bencana tersebut. "Kita sudah alihkan sesuai dengan prosedur operasional standar kita. Ada jadwal susulan yang sudah kita tentukan jadwalnya," ujar Toni.

Di sisi lain, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa pelaksanaan TKA di seluruh sekolah telah berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Mu'ti meninjau langsung hari pertama TKA di SMP Negeri 2 Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Senin, 6 April 2026.

Mu'ti juga menambahkan bahwa kesiapan kelas dan penataan teknis sudah memenuhi standar yang ditetapkan. Ia berharap agar seluruh proses TKA dapat berlangsung tanpa hambatan. Antisipasi juga telah dilakukan untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dengan skema yang fleksibel.

Soal TKA tidak sepenuhnya berbasis daring, sehingga sekolah dengan keterbatasan perangkat tetap dapat melaksanakan asesmen. Bahkan, opsi berbagi fasilitas dengan sekolah lain turut disediakan untuk mengatasi kendala perangkat. Pemerintah juga telah menyiapkan mekanisme ujian susulan berbasis komputer bagi satuan pendidikan yang terdampak bencana, seperti kebakaran atau banjir, demi memastikan semua peserta mendapatkan haknya.

"Dengan sistem yang ada, kita optimistis pelaksanaan TKA dapat memberikan data yang valid dan akurat sebagai dasar perumusan kebijakan pendidikan ke depan," jelas Mu'ti. Secara nasional, partisipasi peserta TKA pada hari pertama mencapai sekitar 98 persen dari target. Sisanya, sekitar 2 persen siswa, belum mengikuti TKA karena berbagai alasan, termasuk kesiapan psikologis dan pertimbangan dari orang tua.

Recommended