Kementerian Keuangan saat ini tengah mengkaji kemungkinan untuk mengambil alih PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), entitas yang bertanggung jawab atas operasional Kereta Cepat Whoosh. Opsi ini menjadi salah satu pembahasan pemerintah dalam upaya menyelesaikan berbagai isu terkait proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
Dony Oskaria, selaku COO BPI Danantara, menjelaskan bahwa skema pengambilalihan KCIC oleh Kementerian Keuangan adalah salah satu alternatif yang sedang digodok. Hal ini disampaikannya dalam sebuah pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/4/2026), seperti dilansir dari Detik Finance.
Menurut Dony, pembahasan mengenai opsi-opsi penyelesaian masalah ini diharapkan akan tuntas dalam waktu maksimal dua bulan ke depan. Namun, detail lebih lanjut belum bisa ia ungkapkan karena belum mencapai keputusan final.
Pria yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN itu menekankan pentingnya menyelesaikan permasalahan ini secara menyeluruh. "Ini sedang kita… insyaallah mudah-mudahan sebentar lagi selesai, kita pikirin satu-satu kan. Ada beberapa skema tentunya, nanti saya akan update karena kalau sekarang belum final kita update nanti takut ramai lagi," ujar Dony.
Dony menambahkan bahwa semua opsi penyelesaian akan dituntaskan dalam satu atau dua bulan ke depan, tanpa menyebutkan skema spesifik yang sedang dipertimbangkan. Ia hanya menyatakan bahwa "masih ada beberapa opsi pokoknya. Semua penyelesaian itu, jadi apakah opsi A, Opsi B, tapi 1-2 bulan ini akan selesai."
Mengenai masa depan konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) di KCIC, Dony belum dapat memberikan penjelasan rinci. PSBI sendiri merupakan gabungan beberapa perusahaan BUMN, termasuk PT KAI, PT WIKA, PT Jasa Marga, dan PTPN.
Dony hanya menegaskan bahwa pemerintah berkeinginan agar setiap BUMN dapat bekerja sesuai dengan porsi dan bidang keahliannya masing-masing. Sebagai contoh, PT WIKA, yang merupakan bagian dari konsorsium, diharapkan akan kembali fokus pada usaha kontraktor dan tidak lagi terlibat dalam pengelolaan kereta cepat.
"Itu kita bereskan sekalian, kan kita maunya sekali selesai tuntas semua kita kembalikan lagi ke porsinya, misalnya WIKA memang bukan bidangnya di situ kita akan fokus ke kontraktor. Nanti satu per satu kita bereskan. Kita maunya semua yang diselesaikan tuntas," papar Dony.
Saat ini, konsorsium empat BUMN Indonesia tersebut memiliki 60% saham di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), sementara 40% sisanya dimiliki oleh konsorsium perusahaan asal China.