Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan sektor manufaktur Indonesia mengalami kontraksi pada April 2026 akibat gangguan rantai pasok global dan dinamika geopolitik. Kondisi ini terlihat dari penurunan indeks manajer pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) ke level 49,1.
Berdasarkan data S&P Global yang dilansir dari Medcom pada Senin (4/5/2026), angka tersebut turun signifikan dibandingkan posisi Maret yang berada di level ekspansif 50,1. Sebagai informasi, angka di bawah ambang batas 50 menunjukkan sektor industri sedang berada dalam fase penyusutan aktivitas.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik internasional menjadi faktor utama yang menghambat distribusi bahan baku. Masalah ini kemudian memicu lonjakan biaya logistik serta harga komoditas yang memberatkan para pelaku industri nasional.
"Ketegangan geopolitik telah menghambat kelancaran distribusi bahan baku, sekaligus mendorong kenaikan harga komoditas dan biaya logistik," kata Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kemenperin. Ia menambahkan bahwa beban biaya yang tinggi sangat mempengaruhi performa manufaktur secara menyeluruh.
Menanggapi situasi ini, pemerintah melalui Kemenperin mulai memperkuat koordinasi ekosistem industri untuk menjaga ketersediaan bahan baku. Salah satu upaya konkret adalah memfasilitasi pertemuan antara pelaku industri yang terdampak, termasuk sektor plastik, guna mencari solusi pasokan.
Pemerintah juga mendorong penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) guna mengurangi ketergantungan pada mata uang asing. Strategi ini diharapkan mampu meminimalisir risiko kerugian akibat fluktuasi nilai tukar yang sering menghantui para eksportir dan importir.
Langkah kebijakan lain yang dipercepat mencakup penguatan Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan substitusi impor. Kemenperin turut melakukan diversifikasi sumber bahan baku serta memperluas tujuan ekspor untuk menjaga daya tahan industri dari guncangan eksternal.
Selain itu, bantuan berupa pendampingan bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM) serta percepatan transformasi digital terus digenjot demi efisiensi produksi. Pemerintah juga menyiapkan paket insentif tambahan dan kebijakan proteksi industri guna melindungi tenaga kerja dari risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).
Secara regional di Asia Tenggara, Indonesia mencatatkan kontraksi moderat yang juga dialami oleh Filipina dengan PMI di level 48,3. Sebaliknya, Vietnam dan Malaysia masih menunjukkan pertumbuhan tipis masing-masing di level 50,5 dan 51,6 pada periode yang sama.
Meskipun sedang mengalami tekanan, optimisme pelaku industri domestik dilaporkan masih cukup tinggi. Berdasarkan Survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI), tingkat keyakinan terhadap prospek bisnis enam bulan ke depan tercatat berada di angka 70,1 persen.