PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp99,68 miliar pada tahun 2025. Keberhasilan ini membalikkan keadaan setelah sebelumnya mengalami kerugian pada periode yang sama di tahun 2024.
Menurut laporan keuangan perusahaan, perbaikan kinerja ini didorong oleh peningkatan pendapatan bunga dan efisiensi operasional.
Pendapatan bunga Superbank mengalami peningkatan signifikan, mencapai Rp2,16 triliun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya yang hanya sebesar Rp743,98 miliar.
Setelah dikurangi dengan beban bunga sebesar Rp587,01 miliar, pendapatan bunga bersih yang berhasil dibukukan adalah sebesar Rp1,58 triliun. Jumlah ini meningkat dari Rp606,84 miliar pada periode sebelumnya.
Selain itu, pendapatan operasional lainnya juga memberikan kontribusi positif. Pendapatan dari provisi dan komisi tercatat sebesar Rp15,52 miliar, sementara keuntungan dari penjualan efek-efek investasi mencapai Rp24,58 miliar.
Secara keseluruhan, total pendapatan operasional yang dicatatkan adalah sebesar Rp40,26 miliar, meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya yang sebesar Rp31,11 miliar.
Namun, beban operasional Superbank masih cukup besar, mencapai Rp1,47 triliun. Angka ini juga mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode sebelumnya yang sebesar Rp1,03 triliun.
Dari sisi pendapatan komprehensif, Superbank mencatat laba komprehensif sebesar Rp176,41 miliar, berbanding terbalik dengan rugi komprehensif sebesar Rp384,96 miliar pada periode sebelumnya.
Kinerja positif ini tercermin pada laba bersih per saham dasar, yang tercatat sebesar 3,3, dibandingkan dengan rugi per saham sebesar 13,0 pada periode sebelumnya.
Berdasarkan laporan posisi keuangan per 31 Desember 2025, total aset Superbank tercatat sebesar Rp21,28 triliun. Jumlah ini melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan dengan Rp11,36 triliun pada tahun 2024. Pertumbuhan aset ini didorong oleh kenaikan penyaluran kredit.
Kredit bersih tercatat sebesar Rp9,62 triliun, meningkat tajam dari Rp6,43 triliun pada tahun sebelumnya.
Selain kredit, komponen aset lainnya juga menunjukkan peningkatan. Efek-efek bersih tercatat sebesar Rp7,85 triliun, naik dari Rp4,20 triliun pada 2023. Penempatan pada Bank Indonesia tercatat Rp1,81 triliun, naik dari Rp128,68 miliar.
Kas perseroan tercatat sebesar Rp217 miliar, sedangkan giro pada Bank Indonesia mencapai Rp389,30 miliar.
Pendanaan Naik
Dari sisi pendanaan, total liabilitas Superbank mencapai Rp13,12 triliun, meningkat dari Rp6,15 triliun pada tahun sebelumnya.
Peningkatan liabilitas ini terutama disebabkan oleh pertumbuhan simpanan dana pihak ketiga. Simpanan nasabah tercatat sebesar Rp11,78 triliun, melonjak dari Rp4,81 triliun pada 2023. Liabilitas lain-lain tercatat Rp129 miliar, dan beban masih harus dibayar sebesar Rp341 miliar.
Pertumbuhan aset dan dana pihak ketiga ini mencerminkan ekspansi bisnis Superbank sepanjang 2025, terutama dalam penyaluran kredit dan pengelolaan portofolio surat berharga.
Ekuitas Superbank tercatat sebesar Rp8,16 triliun pada 2025, meningkat sekitar 55 persen dibandingkan dengan Rp5,25 triliun pada 2024.
Peningkatan ekuitas ini didorong oleh peningkatan modal ditempatkan dan disetor, yang tercatat sebesar Rp5,53 triliun pada 2025, naik dari Rp3,30 triliun pada tahun sebelumnya.
Tambahan modal disetor juga mengalami peningkatan menjadi Rp3,39 triliun, dibandingkan Rp2,88 triliun pada 2024.
Pos cadangan nilai wajar mencatat perubahan menjadi Rp69,5 miliar dari minus Rp6,3 miliar pada 2024.