Kemenperin Optimalkan Pasokan Bahan Baku Plastik di Tengah Geopolitik Global

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan pasokan plastik tetap aman meski ada gejolak geopolitik. Kemenperin siapkan alternatif pasokan nafta dan daur ulang.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku plastik di pasar nasional, menyikapi dampak dinamika geopolitik global. Belakangan, eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga plastik yang signifikan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa gangguan distribusi dan produksi di tingkat global memberikan tekanan pada struktur biaya hulu. Kondisi ini dipicu oleh koreksi suplai di sektor industri yang sangat bergantung pada nafta sebagai bahan baku utama, seperti dilansir dari Detik Finance.

"Mengingat plastik merupakan produk turunan dari proses petrokimia yang berbasis minyak bumi, gangguan pada jalur distribusi dan produksi di global memang memberikan tekanan pada struktur biaya di tingkat hulu," ujar Agus pada Rabu (8/4/2026).

Menperin juga menanggapi kekhawatiran publik terkait isu stok plastik yang dikabarkan hanya cukup hingga Mei. Berdasarkan data terkini dari Industri Kemasan Indonesia (IKI), kinerja industri kemasan pada Maret 2026 menunjukkan ekspansi yang sangat tinggi. Hal ini menandakan bahwa stok produk plastik masih terbilang cukup karena subsektor industri berada dalam performa prima.

Oleh karena itu, Agus Gumiwang mengimbau masyarakat dan pelaku industri hilir agar tidak panik. Ia menegaskan bahwa produk plastik akan tetap tersedia di pasar dan pemerintah berkomitmen penuh untuk mencegah terjadinya kekosongan stok.

"Masyarakat dan industri hilir tidak perlu panik, karena produk plastik dipastikan masih tersedia di pasar. Pemerintah berkomitmen memastikan tidak terjadi kekosongan stok dengan mengoptimalkan berbagai kanal pasokan alternatif," jelas Agus.

Agus menambahkan bahwa Kemenperin secara paralel terus mengamankan pasokan. Meskipun demikian, ia mengakui adanya kenaikan harga di tingkat produksi sebagai konsekuensi dari peningkatan biaya bahan baku global.

Kemenperin aktif memperkuat koordinasi dengan para pengusaha manufaktur untuk memitigasi dampak pelemahan rantai pasok global. Langkah antisipatif ini diambil guna memastikan ketahanan industri manufaktur nasional, baik untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun pasar ekspor.

Lebih lanjut, Kemenperin bersama para pelaku industri petrokimia hulu sedang menempuh berbagai langkah strategis. Tujuannya adalah menjaga keberlangsungan produksi di tengah tantangan global, di antaranya:

  • Industri sedang menjajaki pasokan nafta dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan pada wilayah tersebut.
  • Optimalisasi penggunaan LPG sebagai bahan baku penyangga (buffer) dalam proses produksi untuk menutupi celah kekurangan pasokan nafta.
  • Pemerintah mendorong peningkatan pemanfaatan plastik hasil daur ulang (recycled plastic) berkualitas tinggi sebagai substitusi pasokan, guna menjaga stabilitas stok di pasar.

Recommended