Kenaikan Harga Avtur Picu Dampak Berantai pada Biaya Logistik Udara

Konflik di Timur Tengah menyebabkan lonjakan harga avtur hingga 80% pada April 2026, memicu potensi kenaikan biaya logistik dan harga barang.

Situasi geopolitik yang terus bergejolak di Timur Tengah telah menciptakan ketidakpastian signifikan dalam perekonomian global, khususnya di sektor transportasi. Gangguan pada pasokan energi ini berkontribusi terhadap kenaikan harga komoditas dan biaya operasional di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu dampak paling terasa adalah lonjakan harga avtur yang berpotensi memicu konsekuensi serius, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Denon Prawiraatmadja, mengonfirmasi kekhawatiran tersebut. Ia menyatakan bahwa kenaikan harga avtur sudah diprediksi sebelumnya sebagai imbas dari krisis geopolitik global yang memengaruhi Timur Tengah.

“Seperti sudah kita perkirakan sebelumnya, harga avtur akan naik mengikuti harga di tingkat global karena imbas krisis geopolitik di Timur Tengah,” ujar Denon pada Jumat (3/4/2026).

Sebagai ilustrasi, harga bahan bakar penerbangan untuk periode 1-30 April 2026 menunjukkan peningkatan drastis. Avtur domestik naik rata-rata hingga 70 persen, sementara rute internasional mengalami kenaikan rata-rata hingga 80 persen, dengan variasi harga di setiap bandara.

Pengamat transportasi dan logistik dari Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Djoko Setijowarno, turut menyoroti dampak ini pada industri logistik. Menurut Djoko, distribusi barang di Indonesia, yang memiliki karakteristik kepulauan, sangat mengandalkan jalur udara melalui pesawat kargo. Berbagai komoditas, mulai dari paket e-commerce hingga barang berat, sangat bergantung pada efisiensi jaringan distribusi udara.

Djoko khawatir bahwa lonjakan harga avtur yang dialami industri penerbangan akan merambat ke berbagai sektor lain, termasuk logistik. Ia menilai bahwa penyesuaian biaya mungkin akan menjadi kebutuhan demi menjaga kelancaran operasional industri logistik.

“Kenaikan harga avtur pada tahap awal bisa pastinya akan berdampak pada biaya logistik yang akan menyebabkan ‘shock’ di berbagai industri yang bergantung pada pengiriman udara,” tutur Djoko.

Jika tekanan biaya ini berlanjut, dampaknya akan berpotensi meluas hingga ekosistem perdagangan digital, terutama pada layanan logistik yang berfungsi sebagai penghubung krusial antara penjual dan pembeli. Menurutnya, pelaku industri logistik akan terdorong untuk melakukan penyesuaian operasional guna memastikan keberlanjutan bisnis.

Djoko menambahkan, “Bentuk penyesuaian ini bisa beragam, salah satunya melalui kenaikan harga secara umum, kenaikan biaya kirim, hingga penyesuaian biaya layanan.”

Meskipun demikian, peningkatan biaya bahan bakar bukanlah isu baru bagi industri logistik. Para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pelaku usaha logistik, dan asosiasi industri, masih memiliki kesempatan untuk berdiskusi lebih lanjut guna mengkaji sejauh mana kenaikan harga avtur akan memengaruhi biaya distribusi di masa mendatang.

Recommended