Konflik Timur Tengah Hilangkan Pasokan Minyak Mentah Rp 859 Triliun

Pasar energi global kehilangan 500 juta barel minyak mentah senilai US$ 50 miliar akibat eskalasi konflik di Timur Tengah sejak Februari 2026.

Pasar energi global kehilangan pasokan lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat senilai US$ 50 miliar atau setara Rp 859 triliun sejak pecahnya konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026.

Data Kpler yang dilansir dari Detik Finance pada Minggu (19/4/2026) menunjukkan bahwa gangguan ini menjadi salah satu hambatan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern dengan dampak yang diprediksi bertahan hingga jangka panjang.

Volume minyak yang hilang sebanyak 500 juta barel tersebut memiliki dampak setara dengan penghentian total permintaan penerbangan global selama 10 minggu atau ketiadaan pasokan minyak bagi ekonomi dunia selama lima hari penuh.

Analisis data tersebut juga mencatatkan bahwa jumlah kehilangan ini hampir menyamai seluruh permintaan minyak di Amerika Serikat selama satu bulan atau konsumsi bahan bakar militer negara tersebut selama enam tahun.

Negara-negara di kawasan Teluk Arab mengalami penurunan produksi yang drastis mencapai 8 juta barel per hari pada Maret 2026, yang secara akumulatif hampir setara dengan total produksi dua perusahaan migas raksasa, Exxon Mobil dan Chevron.

Penurunan signifikan terjadi pada ekspor bahan bakar jet dari Arab Saudi, Qatar, UEA, Kuwait, Bahrain, dan Oman yang anjlok dari 19,6 juta barel pada Februari 2026 menjadi hanya 4,1 juta barel pada periode Maret hingga April.

"Itu setara dengan penurunan 1% dalam produk domestik bruto tahunan Jerman, atau kira-kira seluruh PDB negara-negara kecil seperti Latvia atau Estonia," kata Johannes Rauball, Analis Minyak Mentah Senior di Kpler.

Dengan harga rata-rata minyak mentah yang bertahan di angka US$ 100 per barel sejak awal konflik, hilangnya volume produksi ini secara langsung memangkas pendapatan produsen hingga puluhan miliar dolar AS.

Recommended