Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak serius pada industri penerbangan global.
Konflik yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran diperkirakan menyebabkan kerugian mencapai USD53 miliar atau hampir Rp900 triliun bagi puluhan maskapai di seluruh dunia, menurut perhitungan Financial Times.
Manajemen maskapai penerbangan memperingatkan potensi dampak dari meningkatnya harga minyak, gangguan di bandara-bandara kawasan Teluk, serta penurunan permintaan global.
Penumpang yang berencana melakukan perjalanan ke berbagai rute, termasuk yang tidak terkait langsung dengan Timur Tengah, berpotensi menghadapi kenaikan harga tiket dalam beberapa bulan mendatang. Kenaikan ini terjadi seiring upaya maskapai penerbangan untuk mempertahankan pendapatan mereka.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menyerang wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Awalnya, AS dan Israel mengklaim serangan mereka diperlukan untuk menangkal program nuklir Iran, tetapi kemudian terungkap bahwa tujuan sebenarnya adalah menggulingkan kekuasaan di Iran.