KH Ahmad Dahlan Wafat di Usia 55 Tahun pada 23 Februari 1923

KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, wafat pada 23 Februari 1923 di usia 55 tahun. Pemikiran dan perjuangannya terus menginspirasi.

Tepat 103 tahun lalu, KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, menghembuskan napas terakhirnya. Meski wafat di usia relatif muda, yaitu 55 tahun, warisan pemikiran dan perjuangannya terus hidup dan menginspirasi banyak orang.

KH Ahmad Dahlan adalah ulama sekaligus pendidik yang mewariskan nilai-nilai luar biasa bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Fondasi pembaruan Islam yang diletakkannya tetap relevan hingga kini.

Lahir pada 1 Agustus 1868, KH Ahmad Dahlan wafat pada 23 Februari 1923. Meskipun hanya memimpin Muhammadiyah selama 11 tahun, ia mampu meletakkan dasar-dasar pembaruan Islam yang signifikan.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menyebut Kiai Dahlan sebagai teladan bagi seluruh warga Persyarikatan. "Kalau dihitung dari sejak beliau memimpin Muhammadiyah, beliau hanya memimpin selama 11 tahun," ujar Abdul Mu'ti.

Dalam waktu singkat, Kiai Dahlan berhasil meletakkan dasar pembaruan Islam dan jasanya menjadi teladan bagi generasi sekarang. Nilai-nilai kemajuan yang diusungnya berhasil memperluas gerakan Islam dan Muhammadiyah ke berbagai penjuru dunia.

"Jika seorang itu beramal dengan ikhlas, beramal secara tulus, maka akan ada banyak orang yang mengikuti apa saja yang kita lakukan, mendengarkan apa yang kita ucapkan, bahkan memperjuangkan apa yang kita lakukan," kata Mu'ti.

Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan

Perjuangan Kiai Dahlan dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia berawal dari keprihatinannya terhadap kondisi umat yang dianggap tertinggal. Berikut jejak perjuangannya:

1. Bergabung dengan Budi Utomo

Pada tahun 1909, Kiai Ahmad Dahlan bergabung dengan Budi Utomo untuk mempelajari sistem organisasi dan tata kelola manajemen. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk membuka jalan bagi pengajaran Islam di berbagai institusi.

2. Mendirikan Madrasah Integratif Pertama

Kiai Ahmad Dahlan mendirikan sekolah integratif pertama pada 1 Desember 1911. Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI), yang berlokasi di ruang tamunya, menggabungkan pendidikan agama dan sains Barat dalam satu sistem. Awalnya hanya memiliki 8 siswa, sekolah ini berkembang pesat hingga memiliki 62 siswa dalam enam bulan.

3. Mendirikan Pesantren Qismul Arqa

Pada 1919, Kiai Ahmad Dahlan mendirikan pesantren Qismul Arqa, cikal bakal Kweekschool Moehammadijah atau Mu'allimin. Lembaga ini bertujuan menyediakan tenaga pengajar di berbagai madrasah Muhammadiyah dan menjadi satu-satunya lembaga pendidikan Islam modern pertama di Yogyakarta hingga tahun 1930.

4. Guru Inovatif dan Berdedikasi

Selain mencetuskan konsep Madrasah, Kiai Ahmad Dahlan dikenal sebagai guru inovatif. Ia sering mengajak siswa belajar di luar kelas dan mendatangi rumah siswa yang absen untuk menjemput mereka. Metode dialog juga menjadi andalannya dalam mengajar.

5. Warisan Besar di Akhir Hayat

Pada 1922, Muhammadiyah telah memiliki 8 sekolah dengan 73 guru dan 1.019 siswa. Kiai Ahmad Dahlan wafat pada 23 Februari 1923 di usia 55 tahun. Warisan pemikiran dan perjuangannya terus menginspirasi hingga lebih dari satu abad kemudian.

Recommended