Program MBG (makan bergizi) dinilai efektif dalam mempererat hubungan antar siswa dan guru, serta membantu meringankan beban ekonomi keluarga. Hal ini terungkap dalam riset yang dilakukan oleh Universitas Indonesia (UI).
Penelitian yang dilaksanakan Pusat Kajian Sosiologi UI pada Maret 2026, serta kajian Research Institute of Socio-Economic Development pada Februari 2026, melibatkan 1.267 sampel di 30 sekolah yang tersebar di lima kabupaten/kota, meliputi Kota Kupang, Kota Depok, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Hasil riset menunjukkan bahwa 72 persen orang tua melaporkan peningkatan konsumsi makanan bergizi pada anak-anak mereka. Selain itu, 55 persen menyatakan bahwa anak-anak menjadi lebih terbuka terhadap variasi makanan yang sebelumnya kurang diminati.
Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho, menyampaikan, "Temuan paling menggembirakan dari riset ini adalah tingginya penerimaan masyarakat, dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Para orang tua siswa yang ditemui di lapangan umumnya memberikan penilaian yang sangat positif terhadap program ini."
Sosiolog Musni Umar menambahkan, program MBG tidak hanya memberikan asupan gizi yang cukup bagi siswa, tetapi juga berperan penting dalam membangun interaksi sosial dan meningkatkan semangat belajar di sekolah. Program ini memberikan manfaat yang luas, baik dari aspek kesehatan maupun perkembangan sosial siswa.
Musni menjelaskan bahwa ketersediaan makanan bergizi secara teratur membantu siswa untuk lebih fokus dan nyaman dalam mengikuti proses belajar. “MBG di sekolah bisa menciptakan kesetaraan, kebersamaan, dan kedekatan satu sama lain. Selain itu, siswa bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan nyaman karena tidak dalam lapar,” jelas dia dikutip dalam siaran persnya, Rabu, 11 Maret 2026.
Musni juga mendorong pemerintah untuk terus melakukan perbaikan terhadap program ini.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyampaikan bahwa program MBG menjadi fondasi penting dalam menciptakan pendidikan bermutu di Indonesia.
Menurut Toni, praktik makan bersama menciptakan ruang interaksi sosial yang lebih inklusif dan memperkuat kebersamaan di antara siswa. “Kegiatan makan bersama menjadi sarana pembelajaran karakter yang alami. Siswa belajar disiplin, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus melalui pendekatan formal, tetapi dapat tumbuh melalui pengalaman keseharian yang dirancang secara bermakna,” tegas Toni.
Selain itu, Toni menambahkan bahwa program MBG berpotensi membentuk ulang relasi pedagogis di sekolah, menciptakan momen non-formal yang mempertemukan siswa dan guru dalam suasana yang lebih setara.
Interaksi ini dapat memperkuat rasa aman psikologis (psychological safety), yang menjadi dasar penting bagi pembelajaran yang mendalam. “Ketika siswa merasa dihargai dan terhubung secara sosial, mereka cenderung lebih berani bertanya, bereksplorasi, dan terlibat aktif dalam proses belajar,” kata Toni.