PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG berhasil mencatatkan volume penjualan sebesar 8,71 juta ton pada kuartal I-2026 yang berakhir Maret lalu. Capaian ini menandai tren positif perusahaan di tengah tantangan kelebihan pasokan semen domestik dan situasi geopolitik global.
Berdasarkan data laporan keuangan konsolidasian yang dilansir dari Medcom, realisasi penjualan tersebut mengalami kenaikan sebesar 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sebelumnya, pada kuartal pertama tahun lalu, perseroan mencatatkan volume sebesar 8,57 juta ton.
Kenaikan volume ini berdampak langsung pada perolehan pendapatan yang mencapai Rp8,29 triliun, dengan catatan beban pokok pendapatan sebesar Rp6,62 triliun. Perseroan juga membukukan EBITDA sebesar Rp1,06 triliun dan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp80 miliar.
Sektor domestik menjadi motor utama pertumbuhan dengan peningkatan 5,4 persen secara tahunan. Secara spesifik, segmen semen kantong menunjukkan performa kuat dengan lonjakan 11 persen, melampaui rata-rata pertumbuhan permintaan nasional yang berada di angka 7 persen.
"Transformasi bisnis yang dijalankan berfokus pada pengelolaan pasar mikro, efisiensi biaya, serta optimalisasi produk turunan semen dan portofolio," ujar Vita Mahreyni, Corporate Secretary SIG, sebagaimana dikutip dari keterangannya.
Meskipun penjualan regional mengalami penurunan sebesar 8 persen, SIG mampu mengimbangi kondisi keuangan melalui penekanan biaya bunga. Biaya keuangan bersih tercatat turun drastis hingga 35,4 persen, yang memberikan ruang bagi pertumbuhan laba bersih perusahaan sebesar 88,7 persen.
Untuk strategi jangka panjang, perseroan tengah mempersiapkan perluasan pasar ekspor guna mengatasi masalah kelebihan kapasitas produksi dalam negeri. SIG melalui anak usahanya, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, telah menyelesaikan pengembangan dermaga dan fasilitas produksi di Tuban, Jawa Timur.
Fasilitas di Tuban hasil kerja sama dengan Taiheiyo Cement Corporation tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2026. Langkah ekspansi ini ditargetkan menyasar pasar Amerika Serikat dan berbagai negara lain untuk meningkatkan margin serta utilitas produksi perusahaan.