Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menilai proposal gencatan senjata yang diajukan Iran belum memadai. Pernyataan ini muncul menjelang batas waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, dengan ancaman serangan besar terhadap infrastruktur sipilnya jika tidak dipenuhi.
Iran telah menyerahkan respons resmi berisi 10 poin kepada AS melalui Pakistan sebagai mediator. Respons tersebut mencakup penawaran protokol jalur aman di Selat Hormuz, upaya rekonstruksi, serta pencabutan sanksi ekonomi.
"Itu belum cukup baik, tapi itu langkah yang sangat signifikan," kata Trump, seperti dikutip dari Detik Finance pada Selasa (7/6/2026).
Meskipun Presiden Trump menyiratkan bahwa Iran yang mengajukan proposal gencatan senjata sementara, Teheran justru menolak gagasan tersebut. Iran justru menyerukan jalan untuk mengakhiri konflik secara permanen.
Dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih, Trump kembali menekankan ancaman untuk menyerang infrastruktur energi dan transportasi Iran. Serangan ini akan dilancarkan pada Selasa pukul 8 malam waktu setempat, apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka.
"Kami punya rencana, dengan kekuatan militer kami, di mana setiap jembatan di Iran akan dihancurkan sebelum tengah malam besok, setiap pembangkit listrik di Iran akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi," tegas Trump.
Iran telah secara efektif menutup Selat Hormuz sejak perang dimulai pada 28 Februari. Pekan lalu, parlemen Iran juga mengesahkan undang-undang untuk memformalkan penarikan biaya bagi kapal yang melintasi jalur tersebut, meskipun rute itu sebagian besar masih terblokir.
Trump selanjutnya menyatakan bahwa satu-satunya pihak yang akan menetapkan gencatan senjata adalah dirinya sendiri. Upaya gencatan senjata ini disebut-sebut sebagai kesempatan terakhir sebelum tenggat waktu yang telah ditentukan Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.