KNKT Sebut Kegagalan Manajemen Risiko Picu Kecelakaan Rem Blong Truk

KNKT menegaskan kecelakaan rem blong pada truk merupakan bentuk kegagalan manajemen risiko dan pengawasan kompetensi pengemudi serta kendaraan.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menegaskan bahwa kasus kecelakaan truk akibat rem blong merupakan bentuk kegagalan dalam mengelola risiko keselamatan di Jakarta pada Jumat, 17 April 2026.

Investigator Senior KNKT, Ahmad Wildan, menyampaikan bahwa insiden tersebut bukan sekadar malfungsi komponen teknis semata. Sebagaimana dilansir dari Medcom, kegagalan ini mencakup ketidakmampuan operator dalam mengidentifikasi potensi bahaya sejak awal.

Sistem manajemen keselamatan (SMK) mencatat lima faktor utama risiko kecelakaan, yakni pengemudi, kondisi kendaraan, lintasan, beban muatan, dan penanganan darurat. Ahmad Wildan menekankan bahwa faktor pengemudi dan kendaraan tetap menjadi variabel kunci paling krusial.

"Pada dasarnya kecelakaan di jalan itu terjadi karena faktor pengemudi. Karena itu peningkatan kompetensi driver serta manajemen perawatan kendaraan menjadi kunci penting dalam meningkatkan keselamatan transportasi," ujar Ahmad Wildan di Kemayoran, Jakarta.

Ia menambahkan bahwa kesalahan pada kendaraan dapat terjadi dalam tiga fase berbeda. Fase tersebut meliputi kesalahan sejak awal pengadaan, kesalahan saat proses pemeliharaan, maupun kesalahan ketika kendaraan sedang dioperasikan di lapangan.

Menanggapi hal tersebut, Training Division Head PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), Pieter Andre, menyatakan pelatihan pengemudi adalah aspek krusial bagi keamanan transportasi. Program berkelanjutan dinilai mampu meningkatkan kesadaran keselamatan serta efisiensi berkendara bagi awak angkutan niaga.

Penerapan manajemen perawatan yang disiplin menjadi syarat mutlak agar seluruh fitur keselamatan pada kendaraan niaga dapat berfungsi secara optimal. Upaya ini bertujuan memastikan kendaraan selalu dalam kondisi laik jalan sebelum memulai operasional rutin di jalan raya.

Recommended