Ketidakpastian ekonomi akibat tingginya harga minyak menjadi perhatian pejabat Amerika Serikat (AS). Mereka memprediksi perang dengan Iran akan segera berakhir, sehingga berpotensi menurunkan biaya energi.
Meskipun harga minyak mentah masih di kisaran US$ 100 per barel, para pejabat AS melihat tanda-tanda yang jelas bahwa konflik akan berakhir relatif cepat.
Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan, "Konflik ini pasti akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan, bisa jadi lebih cepat dari itu. Kita akan melihat peningkatan pasokan dan penurunan harga setelah itu," seperti dikutip dari Reuters, Senin (16/3/2026).
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam serangan lanjutan terhadap pusat ekspor minyak utama Iran, Pulau Kharg. Ia juga berencana mengumumkan koalisi untuk mengawal kapal melalui Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya menambahkan, "Masih dibahas apakah operasi tersebut akan dimulai sebelum atau setelah permusuhan berakhir."
Trump mengklaim pada Jumat (13/3) bahwa Iran ingin bernegosiasi. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah klaim tersebut pada Minggu (15/3). "Kami tidak pernah meminta gencatan senjata dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi. Kami siap membela diri selama yang dibutuhkan," tegas Araqchi.
Trump menyatakan bahwa serangan AS telah menghancurkan sebagian besar Pulau Kharg dan memperingatkan serangan lebih lanjut. "Kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang," ujarnya, seiring perang memasuki minggu ketiga.
Sementara itu, Israel dan Lebanon diperkirakan akan melakukan pembicaraan dalam beberapa hari mendatang untuk mencapai gencatan senjata. Lebanon terlibat dalam perang setelah Hizbullah menembaki Israel, dengan alasan sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran.