Konsumsi Masyarakat Indonesia Meningkat Selama Ramadan dan Lebaran 2026

Mandiri Spending Index mencatat pertumbuhan belanja 2,9 persen pada periode Ramadan-Lebaran 2026 yang didominasi oleh kelas menengah dan Gen Z.

Indeks belanja masyarakat Indonesia mengalami kenaikan signifikan selama periode Ramadan hingga Idulfitri pada Kamis, 16 April 2026, di tengah situasi ekonomi global yang dinamis. Laporan Mandiri Institute menunjukkan Mandiri Spending Index (MSI) tumbuh sebesar 2,9 persen dibandingkan dengan masa pra-Ramadan.

Pencapaian pertumbuhan tahun ini melampaui rata-rata peningkatan konsumsi pada dua tahun sebelumnya yang tertahan di angka 2,8 persen. Berdasarkan data yang dilansir dari Medcom, tren positif ini mengindikasikan daya beli masyarakat domestik tetap stabil dan terjaga dengan baik.

Kelompok masyarakat kelas menengah muncul sebagai motor penggerak utama ekonomi dengan mencatatkan pertumbuhan belanja mencapai 4,1 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan belanja kelompok bawah sebesar 2,1 persen dan kelompok atas sebesar 2,6 persen.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa akselerasi belanja kelas menengah tercatat hingga dua kali lipat lebih tinggi daripada kelompok lainnya. Momentum pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi faktor krusial yang mendorong lonjakan konsumsi pada segmen ini.

"Kelompok menengah menjadi penggerak utama akselerasi belanja, khususnya pada periode THR, sehingga berkontribusi besar terhadap penguatan konsumsi secara keseluruhan," ujar Andry Asmoro dalam keterangan resminya pada Kamis, 16 April 2026.

Berdasarkan demografi usia, generasi Z tercatat sebagai kelompok paling agresif dengan tingkat pertumbuhan konsumsi mencapai 4,4 persen. Angka ini mengungguli kelompok Milenial yang tumbuh 3 persen serta generasi X yang mencatatkan kenaikan sebesar 1,4 persen.

Pergeseran perilaku belanja juga terlihat pada jenis komoditas yang dibeli, di mana sektor non-esensial mendominasi transaksi tahun ini. Sektor fashion memimpin dengan kenaikan 6,4 persen, disusul produk perawatan kecantikan sebesar 4,9 persen, dan perangkat elektronik sebesar 4,7 persen.

Kondisi ini berbeda dengan pola konsumsi pada Ramadan-Lebaran 2025 yang lebih terfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. Andry Asmoro menilai fenomena ini mencerminkan tingginya kepercayaan diri masyarakat dalam melakukan belanja diskresioner selama musim perayaan 2026.

Penguatan konsumsi domestik ini mempertegas peran permintaan dalam negeri sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional. Kelancaran distribusi THR dan efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga menjadi faktor pendukung keberhasilan tren konsumsi tahun ini.

Recommended