Kubah Nuklir Runit di Kepulauan Marshall Alami Retakan Berbahaya

Kubah Runit di Kepulauan Marshall mengalami keretakan akibat kenaikan air laut, mengancam kebocoran limbah plutonium mematikan ke Samudra Pasifik.

Struktur penampung limbah nuklir yang dikenal sebagai Kubah Runit di Kepulauan Marshall dilaporkan mengalami keretakan serius akibat dampak perubahan iklim pada Selasa (5/5/2026). Kerusakan pada lapisan beton setebal 115 meter ini memicu kekhawatiran global mengenai potensi kebocoran material radioaktif ke Samudra Pasifik.

Dilansir dari Detik iNET, infrastruktur yang dibangun oleh militer Amerika Serikat antara tahun 1977 hingga 1980 ini menyimpan lebih dari 120.000 ton material terkontaminasi. Limbah tersebut berasal dari uji coba nuklir 'Cactus' tahun 1958 yang memiliki kekuatan ledakan mencapai 18 kiloton di Pulau Runit.

Para ahli menyoroti ancaman utama berasal dari kenaikan permukaan laut yang terus mengikis garis pantai pulau dan merembes ke bawah struktur kawah. Lokasi penyimpanan ini mengandung plutonium-239, sebuah komponen senjata nuklir yang tetap memiliki tingkat bahaya tinggi selama lebih dari 24.000 tahun.

"Mengingat permukaan laut terus naik dan ada indikasi badai makin menguat, kami khawatir keutuhan kubah bisa terancam," kata Ivana Nikolic-Hughes, ahli kimia dari Columbia University. Pernyataan ini didasarkan pada temuan radionuklida signifikan dalam sampel tanah di luar area kubah saat observasi lapangan.

Penelitian dari Pacific Northwest National Laboratory pada tahun 2024 mengonfirmasi bahwa gelombang badai menjadi faktor risiko terbesar penyebaran radionuklida ke seluruh atol. Meski tingkat kebocoran saat ini dinilai masih kecil, letak pulau yang hanya berjarak 32 kilometer dari pemukiman warga meningkatkan risiko dampak kesehatan bagi penduduk lokal.

Ken Buesseler, pakar radioaktivitas laut dari Woods Hole Oceanographic Institute, menegaskan perlunya pemantauan rutin terhadap aliran air yang masuk dan keluar dari struktur tersebut. Menurutnya, stabilitas plutonium sangat bergantung pada bagaimana fenomena pasang surut musiman memengaruhi integritas fisik struktur beton yang kini kian menua.

Hingga saat ini, para peneliti terus mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk mengambil tanggung jawab penuh atas pembersihan limbah radioaktif tersebut secara permanen. Langkah ini dianggap mendesak guna mencegah bencana lingkungan berskala besar di kawasan Pasifik akibat kegagalan struktur pelindung nuklir tersebut.

Recommended