PT Astra International Tbk melaporkan penurunan laba bersih sebesar 16 persen menjadi Rp5,9 triliun pada kuartal pertama yang berakhir 31 Maret 2026 akibat merosotnya kontribusi dari divisi alat berat dan pertambangan. Penurunan kinerja ini terjadi di tengah fluktuasi harga komoditas dan perubahan alokasi rencana kerja sektor batu bara.
Pendapatan bersih konsolidasian grup pada periode ini mencapai Rp78,7 triliun, mengalami penyusutan 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dilansir dari Medcom, penurunan tersebut dipicu oleh kinerja lini bisnis alat berat, konstruksi, dan energi yang mengalami tekanan signifikan.
Laba bersih pada divisi alat berat dan pertambangan merosot tajam hingga 79 persen menjadi Rp408 miliar, dipengaruhi oleh absennya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe. Selain itu, terdapat biaya non-operasional sebesar Rp723 miliar pada sektor nikel dan pembangkit listrik panas bumi.
Meskipun sektor komoditas melemah, divisi otomotif tetap mencatatkan pertumbuhan positif dengan kenaikan laba bersih 4 persen menjadi Rp2,4 triliun. Peningkatan ini didorong oleh performa kuat pada bisnis komponen dan layanan mobilitas meskipun volume penjualan unit kendaraan menghadapi tantangan pasar.
Sektor jasa keuangan juga memberikan kontribusi positif dengan laba bersih Rp2,3 triliun atau naik 6 persen seiring meningkatnya portofolio pembiayaan konsumen. Sementara itu, divisi properti mencatatkan lonjakan laba tertinggi mencapai 145 persen menjadi Rp115 miliar berkat kontribusi dari aset gudang industri baru.
"Pada kuartal pertama tahun 2026, laba Grup menurun terutama disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi. Namun, bisnis-bisnis lainnya mencatatkan kinerja yang lebih baik, sehingga dapat mengimbangi sebagian dari penurunan tersebut," kata Rudy, Presiden Direktur Astra.
Grup Astra juga melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali (buyback) saham senilai Rp2,7 triliun untuk memperkuat struktur permodalan dan kepercayaan investor. Nilai aset bersih per saham tercatat naik 2 persen menjadi Rp5.810 dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.
Sektor agribisnis turut mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 35 persen menjadi Rp298 miliar didorong stabilitas harga CPO. Sementara sektor infrastruktur tumbuh 32 persen berkat kenaikan tarif tol dan peningkatan volume lalu lintas harian sebesar 14 persen pada awal tahun ini.