Laba Exxon Mobil dan Chevron Anjlok Akibat Konflik Selat Hormuz

Laba Exxon Mobil dan Chevron merosot tajam pada kuartal I-2026 akibat gangguan rantai pasok minyak mentah menyusul penutupan Selat Hormuz.

Dua raksasa energi Amerika Serikat, Exxon Mobil dan Chevron, melaporkan penurunan laba bersih yang signifikan pada kuartal I-2026 akibat gangguan rantai pasok di Selat Hormuz pada Jumat (30/4/2026). Penutupan jalur pelayaran vital tersebut memicu kekacauan distribusi minyak mentah global di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.

Dilansir dari Detik Finance yang mengutip CNBC, Exxon Mobil mencatatkan laba sebesar US$ 85,14 miliar atau setara Rp 1.475,98 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini. Angka tersebut menunjukkan penurunan hingga 45 persen dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun 2025.

Meskipun merosot tajam, perolehan Exxon Mobil tersebut masih berada di atas ekspektasi pendapatan yang diproyeksikan Wall Street sebesar US$ 82,18 miliar. Namun, kondisi berbeda dialami oleh Chevron yang mencatatkan kinerja di bawah estimasi pasar.

Chevron melaporkan laba bersih sebesar US$ 48,61 miliar atau sekitar Rp 842,7 triliun, yang mencerminkan penurunan 36 persen secara tahunan. Capaian ini lebih rendah dari angka perkiraan Wall Street yang mematok target pada level US$ 52,1 miliar untuk periode tersebut.

CEO Exxon Mobil, Darren Woods, menjelaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah menghambat sekitar 15 persen dari total produksi perusahaan. Woods menekankan bahwa gangguan pada jalur logistik memberikan tekanan besar terhadap proses pengiriman minyak ke berbagai belahan dunia.

Menurut Woods, dibutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk menormalisasi aliran minyak setelah Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya. Selain itu, diperlukan waktu satu bulan tambahan agar pengiriman energi dari kawasan tersebut sampai ke tangan pelanggan di pasar internasional.

"Exxon mengalihkan sekitar 13 juta barel ke pasar yang paling membutuhkannya selama perang. Namun, tindakan ini berdampak negatif secara akuntansi terhadap pendapatan Exxon pada kuartal I," ujar Darren Woods, CEO Exxon Mobil.

Di sisi lain, CEO Chevron, Mike Wirth, menyatakan bahwa posisi perusahaannya relatif lebih aman dari dampak perang dibandingkan kompetitor di industri sejenis. Hal ini disebabkan oleh skala operasi Chevron yang lebih kecil di wilayah Arab Saudi, Kuwait, dan Israel.

Wirth menambahkan bahwa portofolio bisnis Chevron saat ini lebih banyak terkonsentrasi di wilayah Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, dan Afrika. Faktor geografis tersebut diklaim meminimalisir eksposur langsung perusahaan terhadap gejolak keamanan yang terjadi di wilayah Selat Hormuz.

Recommended