Lintasarta dan PERBANAS Perkuat Ketahanan Siber Perbankan Nasional

Lintasarta dan PERBANAS bahas strategi investasi dan keamanan siber perbankan di tengah ancaman kecerdasan artifisial pada CxO Forum di Jakarta.

Lintasarta bersama Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS) menyelenggarakan CxO Forum Banking Update 2026 untuk membahas penguatan keamanan siber sektor keuangan di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, pada Rabu (13/5/2026). Forum bertema strategi investasi dan ketahanan operasional ini menyoroti perlunya kolaborasi ekosistem digital dalam menghadapi ancaman siber berbasis kecerdasan artifisial (AI).

Sektor perbankan nasional saat ini menghadapi risiko serangan siber yang kian kompleks, mulai dari ransomware hingga rekayasa sosial berbasis deepfake. Sebagaimana dilansir dari Detik iNET, forum ini menjadi wadah penyelarasan perspektif bahwa perlindungan data merupakan bagian integral dari strategi pertumbuhan bisnis, bukan sekadar fungsi teknis proteksi.

President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan menegaskan bahwa membangun ketahanan siber tidak dapat dilakukan secara parsial oleh masing-masing institusi. Menurutnya, seluruh pihak dalam ekosistem perbankan, baik bank besar maupun bank kecil, harus terlibat aktif karena transaksi digital tidak memiliki batasan antarlembaga.

"Ketahanan siber tidak bisa dibangun sendiri-sendiri, melainkan harus dilakukan melalui penguatan ekosistem digital secara bersama-sama," ujar Armand Hermawan, President Director & CEO Lintasarta.

Armand menambahkan bahwa ancaman siber saat ini telah berevolusi dan seringkali melibatkan organisasi profesional hingga aktor negara. Lintasarta memposisikan diri sebagai penyedia layanan terintegrasi melalui kerangka kerja Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration guna mendukung beban kerja AI berskala besar di industri perbankan.

Wakil Ketua Umum PERBANAS, Hendra Lembong menjelaskan bahwa transformasi digital memang meningkatkan efisiensi operasional, namun juga memperluas celah risiko. Risiko siber kini dikategorikan sebagai risiko bisnis dan reputasi yang berdampak langsung pada tingkat kepercayaan publik terhadap industri keuangan.

Hendra merujuk pada data Anti-Scam Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan nilai kerugian masyarakat mencapai triliunan rupiah akibat kejahatan digital. Ia mengungkapkan bahwa tingkat pemulihan dana yang hilang tersebut masih sangat rendah, yakni hanya berkisar di bawah 30 persen.

Melalui pertemuan strategis ini, para pelaku industri diharapkan menjadikan keamanan digital sebagai prioritas investasi jangka panjang. Penguatan teknologi tersebut dianggap krusial untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah disrupsi teknologi global yang terus berkembang pesat.

Recommended