Manufaktur Indonesia Terdampak Konflik AS-Israel-Iran, PMI Anjlok

Kinerja sektor manufaktur Indonesia pada Maret 2026 melemah akibat dampak perang AS-Israel lawan Iran, dengan PMI anjlok ke 50,1 dari 53,8.

Sektor manufaktur di Indonesia mulai merasakan dampak konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis oleh S&P Global mencatat penurunan signifikan pada Maret 2026, berada di level 50,1. Angka ini turun tajam dari 53,8 pada bulan sebelumnya dan menjadi yang terendah dalam delapan bulan terakhir, sejak Juli 2025, dilansir dari Detik Finance.

Penurunan kinerja ini dipicu oleh melemahnya permintaan pasar serta gangguan pada pasokan bahan baku. Kedua faktor utama tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Survei yang dilakukan menunjukkan bahwa volume output produksi dan pesanan baru mengalami kontraksi, setelah sempat mencatat pertumbuhan sebelumnya.

Menurut Usamah Bhatti, Ekonom dari S&P Global Market Intelligence, pecahnya perang di Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama di balik penurunan pada akhir triwulan pertama tahun ini. Kondisi ini turut diperburuk dengan menurunnya permintaan ekspor baru, yang sebelumnya sempat naik pada Februari 2026.

Dampak melemahnya permintaan juga meluas ke aktivitas produksi dan tenaga kerja. Perusahaan-perusahaan mulai mengurangi aktivitas pembelian untuk pertama kalinya sejak Juli 2025, meskipun pengurangan jumlah tenaga kerja masih dalam skala terbatas. Bhatti menjelaskan bahwa kenaikan harga material dan kelangkaan pasokan menjadi faktor utama di balik tren penurunan ini.

Dari sisi harga, tekanan inflasi semakin menguat. Harga input mencapai level tertinggi sejak Maret 2024, sementara harga output mencatat kenaikan tercepat sejak Juni 2022. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh kelangkaan material dan keterlambatan pengiriman, yang merupakan kondisi terparah sejak Oktober 2021.

Meskipun demikian, pelaku industri masih menunjukkan optimisme terhadap prospek di masa mendatang. Keyakinan akan pemulihan permintaan serta harapan tidak adanya eskalasi konflik lebih lanjut menjadi faktor penting yang menopang sentimen bisnis. Namun, tingkat optimisme ini masih berada di bawah rata-rata jangka panjang.

Recommended