Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keengganannya untuk berdebat dengan para ekonom atau pengamat yang melontarkan kritik terhadap kondisi ekonomi Indonesia dan menyebutnya telah hancur. Menurutnya, kritik semacam itu seringkali tidak didasarkan pada data yang akurat.
Purbaya menilai bahwa banyak pihak yang menyebarkan sentimen negatif tanpa mempertimbangkan kondisi fundamental perekonomian secara komprehensif. Ia menegaskan bahwa pemerintah siap melakukan perbaikan jika memang terdapat masalah dalam ekonomi, namun ia meyakini bahwa kondisi saat ini masih dalam keadaan baik.
"Mereka nggak pernah belajar ekonomi, nggak pernah kuliah ekonomi di mana debatnya? Saya debat sama orang pinggir jalan yang nggak jelas jadinya. Orang di warung-warung masih jago baca-baca ini, ini enggak. Karena dia punya kemauan. Kenapa nggak saya ajak debat? Nggak pernah belajar ekonomi, saya ajak debat gimana?" tegas Purbaya saat ditemui di Kantor Kemenko Ekonomi, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2026).
Menurut Bendahara Negara, sebagian pengkritik tidak memiliki dasar keilmuan ekonomi yang memadai, sehingga diskusi menjadi tidak produktif.
"Anda mau sebut nama?Semuanya nggak belajar? Kalau itungan saya Master belum sekolah ekonomi. Kenapa? Saya juga belajar dulu pas masuk PhD aja nggak ngerti apa-apa. Jadi kenapa nggak diajak debat, apa yang di debatin? Dia nggak punya data. Lu aja pada percaya," sebutnya.
Purbaya menyoroti banyaknya pengamat yang bersuara di media sosial, khususnya TikTok. Ia meminta mereka untuk berbicara berdasarkan data dan menuduh mereka menciptakan sentimen negatif terhadap ekonomi.
"Jadi kalau ekonom-ekonom itu yang ngomong udah hancur itu, saya nggak tahu di TikTok tuh, banyak. Coba lihat data yang betul, suruh belajar yang betul. Kalau emang jelek, kita betulin, tapi kalau udah bagus saya betulin sebelah mana? Dia cuma menimbulkan sensasi negatif aja menimbulkan sentimen negatif ke ekonomi, mungkin dia terlambat kemarin beli saham jadi pengen beli di bawah," tutupnya.
Dalam kesempatan tersebut, Purbaya juga menyampaikan data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat sekitar 5,39% pada triwulan sebelumnya. Ia juga memproyeksikan pertumbuhan pada triwulan berikutnya dapat mencapai sekitar 5,5% atau lebih.
Selain itu, beberapa indikator ekonomi lainnya juga menunjukkan tren positif, seperti Purchasing Managers' Index (PMI) yang berada di kisaran 53,9, serta consumer confidence yang disurvei oleh Bank Indonesia dan LPS, yang juga mengalami peningkatan.
Purbaya juga menyinggung indikator lain, seperti Retail Sales Index dari Bank Indonesia yang meningkat, serta penjualan mobil yang tumbuh sekitar 7% menurut data asosiasi industri otomotif. Sebelumnya, penjualan kendaraan sempat mengalami kontraksi.
Mandiri Spending Index juga menunjukkan tren positif. Purbaya menjelaskan bahwa data-data tersebut berasal dari berbagai lembaga yang berbeda, sehingga kecil kemungkinan semuanya menunjukkan arah yang sama jika kondisi ekonomi sebenarnya buruk.