Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengecam prediksi sejumlah ekonom yang memperkirakan harga minyak dunia dapat menembus US$ 200 per barel, menyebut proyeksi tersebut tidak realistis.
"Ekonom siapa itu? Ekonom bodoh itu, luar negeri ya? Bodoh," kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (19/3/2026).
Purbaya menjelaskan bahwa, meski secara historis harga minyak dapat melonjak tinggi, level ekstrem tersebut tidak akan bertahan lama. Ia mencontohkan periode 2013-2014, di mana harga sempat diprediksi mencapai US$ 200, namun hanya naik hingga kisaran US$ 150 sebelum akhirnya merosot.
Menurutnya, harga minyak yang terlampau tinggi justru berpotensi memicu resesi global. Kondisi resesi akan menyebabkan penurunan permintaan (demand) secara signifikan dan berdampak pada anjloknya harga minyak.
"Kalau 200 saya bilang, ya paling mungkin sebentar, satu menit dua menit, habis itu jatuh lagi," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ekonomi global tidak akan mampu bertahan jika harga minyak berada pada level setinggi itu. Penurunan permintaan akan menyebabkan koreksi harga yang tajam, bahkan berpotensi kembali ke level yang sangat rendah.
"Kalau US$ 200, global recession akan terjadi. Kalau terjadi, demand turun, harga minyak jatuh," jelasnya.
Purbaya juga menyinggung bahwa dalam kondisi tertentu, harga minyak bahkan pernah menyentuh level terendah, mendekati US$ 15 per barel, bahkan sempat negatif di pasar forward.
Oleh karena itu, ia menilai bahwa prediksi harga minyak US$ 200 tidak memperhitungkan siklus pasar dan data historis.
"Jadi orang mesti ngerti siklus minyak itu," tegasnya.
Meskipun demikian, pemerintah akan terus menyesuaikan kebijakan dengan perkembangan global. Namun, ia meyakinkan bahwa lonjakan harga hingga US$ 200 per barel sangat kecil kemungkinannya terjadi.