Raksasa teknologi Meta mencatatkan penurunan jumlah pengguna Facebook untuk pertama kalinya sepanjang sejarah pelaporan data perusahaan hingga awal Mei 2026. Penurunan ini memicu kekhawatiran mengenai prospek jangka panjang platform tersebut di tengah ketatnya persaingan industri.
Kondisi ini dibarengi dengan merosotnya harga saham perusahaan yang mengonfirmasi adanya tekanan besar pada ekosistem Meta. Dilansir dari Detik iNET, laporan pendapatan terbaru mengungkap bahwa strategi ekspansi yang dilakukan selama ini mulai menghadapi titik jenuh di pasar global.
Jurnalis investigasi Julia Angwin melalui tulisannya di New York Times menyoroti bahwa pengeluaran perusahaan yang dinilai sembrono turut memperburuk posisi keuangan. Meta dianggap gagal melakukan transisi ke Metaverse dan kini terjebak dalam konten bertenaga AI serta iklan yang tidak terfilter dengan baik.
"Dan harga saham yang anjlok mengonfirmasi apa yang selama ini kita yakini dalam hati: Ini adalah perusahaan yang sedang memasuki era zombie," kata Julia Angwin, Jurnalis Investigasi New York Times.
Angwin menyamakan kondisi Facebook saat ini dengan masa kemunduran yang pernah dialami raksasa web terdahulu seperti Yahoo dan AOL. Meski secara teknis masih memiliki pengguna dan meraup untung melalui monetisasi sisa lalu lintas data, daya tarik platform ini bagi generasi muda dinilai telah hilang.
Facebook yang semula diluncurkan pada 2004 sebagai jaringan eksklusif kampus kini dipenuhi dengan isu misinformasi yang belum dibersihkan secara tuntas. Hal ini berdampak pada tingkat kepuasan konsumen yang terus menurun selama beberapa tahun terakhir.
Mark Zuckerberg selaku pendiri telah mencoba mengalihkan fokus ke pengembangan kecerdasan buatan (AI) setelah proyek realitas virtual (VR) miliknya belum membuahkan hasil maksimal. Namun, upaya dominasi di ranah AI tersebut dilaporkan masih tertinggal dibandingkan dengan para kompetitor utamanya.
Hingga saat ini, manajemen Meta terus berupaya mencari celah inovasi baru untuk mempertahankan relevansi di mata pengguna. Masa depan perusahaan bergantung pada kemampuan Zuckerberg untuk menghadirkan terobosan teknologi yang mampu menarik kembali minat pasar remaja.