CEO Meta Mark Zuckerberg mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 8.000 karyawan atau sekitar 10 persen dari total tenaga kerja perusahaan pada pertemuan internal, Sabtu (2/5/2026). Kebijakan efisiensi ini diambil guna mengalihkan anggaran operasional ke sektor pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan penguatan infrastruktur.
Gelombang pemangkasan staf tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 20 Mei 2026 mendatang. Dilansir dari Detik iNET yang mengutip laporan Reuters, langkah ini merupakan bagian dari strategi penyeimbangan beban biaya antara sumber daya manusia dan teknologi komputasi.
"Pada dasarnya, kami memiliki dua pusat biaya utama di perusahaan, infrastruktur komputasi dan hal-hal yang berkaitan dengan sumber daya manusia," kata Mark Zuckerberg, CEO Meta. Ia menjelaskan bahwa peningkatan investasi pada satu area mengharuskan perusahaan merampingkan area lainnya guna mengalokasikan modal yang terbatas secara optimal.
Zuckerberg membantah bahwa pengurangan karyawan ini didorong oleh otomatisasi pekerjaan melalui agen AI otonom atau penggunaan perangkat AI internal. Penyesuaian jumlah staf murni dilakukan atas dasar manajemen modal dan prioritas pembangunan infrastruktur masa depan perusahaan induk Facebook dan Instagram tersebut.
Meskipun belum ada kepastian mengenai pengurangan tambahan, Zuckerberg tidak menutup kemungkinan adanya langkah serupa di masa depan. Ia menyatakan bahwa Meta akan terus memantau tren perkembangan industri dalam tiga tahun ke depan sebelum mengambil kebijakan lebih lanjut.
Selain kebijakan PHK, Meta juga menerapkan sistem pelacakan aktivitas digital karyawan, seperti penggunaan tombol pintas dan navigasi aplikasi, untuk melatih model AI mereka. Hal ini memicu gelombang kritik dari para pekerja melalui saluran komunikasi internal perusahaan terkait privasi dan etika kerja.
CFO Meta Susan Li menambahkan bahwa hingga saat ini manajemen belum dapat menentukan ukuran ideal jumlah karyawan untuk jangka panjang. Tercatat per 31 Desember 2025, Meta masih mempekerjakan hampir 79.000 orang setelah sebelumnya melakukan PHK besar-besaran pada 2022 dan 2023.