Jaksa Milan Tahan Empat Orang Terkait Jaringan Eksploitasi Seksual Elite

Kejaksaan Milan menahan empat orang pengelola jaringan eksploitasi seksual yang melibatkan puluhan pesepak bola profesional di Italia pada April 2026.

Kejaksaan Milan menetapkan empat orang sebagai tahanan rumah pada Rabu (22/4/2026) setelah mengungkap jaringan prostitusi dan peredaran narkoba yang menyasar kalangan elite di Italia. Para tersangka diduga mengelola bisnis ilegal dengan merekrut sejumlah perempuan untuk melayani tamu-tamu kaya dalam pesta eksklusif.

Emanuele Buttini, Deborah Ronchi, Alessio Salamone, dan Luz Luan Amilton Fraga diidentifikasi sebagai penggerak utama operasi tersebut sebagaimana dilansir dari Bola melalui laporan media Italia, Tuttosport. Penanganan kasus ini berada di bawah pimpinan jaksa tambahan Bruna Albertini dengan dukungan penuh aparat penegak hukum setempat.

Penyidik mengungkapkan bahwa kelompok ini menjalankan operasinya dengan mempertemukan pekerja seks profesional dengan pengusaha serta pesepak bola di berbagai lokasi mewah. Para tersangka diduga mendapatkan keuntungan ekonomi langsung dari layanan seksual berbayar yang disediakan kepada para tamu pesta tersebut.

Berdasarkan dokumen pengadilan, aparat telah menyita aset senilai lebih dari 1,2 juta euro atau setara Rp24 miliar yang diduga merupakan hasil keuntungan ilegal. Jaksa Marcello Viola menegaskan bahwa penyitaan dilakukan karena pemasukan para tersangka disinyalir jauh lebih besar daripada angka yang dilaporkan secara resmi.

Penyelidikan lebih lanjut menemukan penggunaan gas tertawa atau protoksida nitrat di lokasi pesta yang tersebar antara Milan dan Mykonos. Zat ini dipilih karena sulit terdeteksi dalam pemeriksaan doping atlet profesional meski memberikan efek euforia bagi penggunanya.

Laporan kantor berita ANSA menyebutkan setidaknya 70 pesepak bola dari klub besar seperti Inter Milan, AC Milan, Juventus, Sassuolo, dan Verona tercatat pernah menghadiri acara tersebut. Meski demikian, para pemain ini berstatus sebagai saksi dan identitasnya tetap disamarkan dalam dokumen penyelidikan.

Kasus ini mencuat setelah adanya laporan seorang perempuan pada Agustus 2024 yang mengungkap praktik eksploitasi tersebut tetap berjalan meski saat masa pembatasan sosial. Ia menyebutkan bahwa para pengelola mengambil separuh dari pendapatan para perempuan serta membebankan biaya sewa kamar yang tinggi.

"Acara-acara dunia malam hampir setiap hari digelar dengan layanan escort, termasuk pada masa lockdown dan pembatasan pertemuan," ujar informan tersebut dalam keterangan tertulisnya.

Penyidik kini tengah menelusuri aliran dana tambahan sebesar 450 ribu euro atau sekitar Rp9 miliar yang diduga ditransfer oleh para pesepak bola ke rekening tersangka. Bukti penyadapan komunikasi juga menunjukkan penggunaan kode-kode tertentu untuk memesan zat terlarang selama pesta berlangsung.

Recommended