Musim Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Awal

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 tiba lebih awal, dengan transisi mulai April-Juni. Masyarakat diimbau waspada kekeringan.

Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau 2026 akan datang lebih awal.

Masa peralihan dari musim hujan ke kemarau diperkirakan akan merata di berbagai wilayah Indonesia mulai April hingga Juni 2026. Selain itu, durasi musim kemarau kali ini berpotensi lebih panjang dibandingkan biasanya.

Menurut laporan Prediksi Musim Kemarau 2026, BMKG memberikan peringatan dini terkait pergeseran musim yang cukup signifikan tahun ini. Tidak hanya lebih awal, musim kemarau kali ini diperkirakan berlangsung lebih lama dari durasi normal.

Dinamika atmosfer menunjukkan bahwa fenomena La Niña Lemah yang terjadi sejak Oktober 2025 telah berakhir. Saat ini, indeks ENSO dan IOD berada dalam fase netral, yang memengaruhi pola transisi musim di Indonesia.

Meskipun intensitas hujan mulai berkurang, transisi musim ini tidak terjadi serentak di semua wilayah. Pergerakan angin Monsun Australia diperkirakan akan mulai mendominasi wilayah Indonesia secara bertahap mulai Juni 2026.

BMKG memprediksi awal musim kemarau di Indonesia akan dimulai secara bertahap, dengan sebagian besar wilayah masuk pada periode April hingga Juni 2026. Proses ini akan diawali dari Nusa Tenggara sebelum menyebar ke wilayah lain.

Pada April 2026, sekitar 16,3 persen wilayah atau 114 ZOM (Zona Musim) mulai memasuki musim kemarau, termasuk pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Memasuki Mei 2026, cakupan wilayah meluas hingga 26,3 persen atau 184 ZOM yang menjangkau Aceh bagian utara, Lampung, sebagian besar Jawa, hingga Papua bagian timur.

Selanjutnya pada Juni 2026, sebanyak 23,3 persen wilayah atau 163 ZOM seperti Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan sebagian besar Kalimantan juga akan menyusul masuk ke musim kemarau.

Puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada Agustus untuk sebagian besar wilayah Indonesia, mencakup 61,4 persen atau sekitar 429 ZOM. Periode ini adalah saat curah hujan berada pada titik terendah sepanjang tahun.

Wilayah yang mencapai puncak kemarau pada Agustus meliputi Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa bagian tengah hingga timur, Bali, NTB, serta sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi. Selain itu, sebagian kecil wilayah lain diprediksi mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli sekitar 12,6 persen atau lebih lambat pada September sekitar 14,3 persen.

Kondisi Kemarau 2026

Secara umum, musim kemarau 2026 di Indonesia diprediksi datang lebih awal dibandingkan rata-rata normal tahun 1991 hingga 2020 pada 46,5 persen wilayah. Durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih panjang dari biasanya di 57,2 persen wilayah Indonesia.

Dari sisi intensitas, sifat hujan selama musim kemarau diprediksi berada pada kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya di 64,5 persen wilayah, yang meningkatkan risiko krisis air bersih dan kebakaran lahan.

Recommended