TKA SMP 2026 Dimulai, Menteri Abdul Mu’ti Tekankan Kejujuran dan Semangat

Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP 2026 telah resmi dimulai. Menteri Abdul Mu'ti menekankan pentingnya integritas dalam pelaksanaan tes.

Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMP telah resmi dimulai pada Senin, 6 April 2026. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, memastikan seluruh proses TKA di sekolah berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan, sebagaimana dilansir dari Medcom.

Menteri Mu'ti menekankan pentingnya integritas selama pelaksanaan TKA, dengan mengusung jargon "Jujur dan Gembira". Ia berpesan kepada para siswa agar mengerjakan tes dengan jujur dan semangat, tanpa menjadikannya beban yang menekan.

Lebih lanjut, Mu'ti menegaskan bahwa TKA bukanlah faktor penentu kelulusan bagi murid. Kewenangan penetapan kelulusan sepenuhnya tetap berada di masing-masing satuan pendidikan.

Dalam peninjauan hari pertama TKA di SMP Negeri 2 Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, pada 6 April 2026, Mu'ti menyatakan kesiapan teknis dan penataan kelas sudah memenuhi standar. "Kita berharap pelaksanaan TKA ini dapat berjalan dengan lancar," ujar Mu'ti.

TKA berfungsi sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan akademik siswa, khususnya pada aspek literasi dan numerasi. Tes ini juga dilengkapi dengan survei karakter serta lingkungan belajar. Menurut Mu'ti, hasil TKA akan melengkapi penilaian prestasi siswa yang selama ini mencakup nilai rapor dan capaian non-akademik.

"Melalui TKA, kita ingin memperoleh profil kemampuan murid yang lebih komprehensif, baik dari sisi akademik maupun karakter," jelas Mu'ti. Ia menambahkan bahwa data dari TKA ini akan menjadi salah satu referensi dalam sistem penerimaan murid baru, baik melalui jalur domisili, prestasi, maupun afirmasi.

Mu'ti juga mengimbau para pengawas ujian untuk menjalankan tugasnya secara profesional. Ia secara spesifik meminta agar pengawas tidak melakukan dokumentasi yang tidak perlu, seperti merekam video atau memperbarui status di media sosial selama pelaksanaan ujian.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menyiapkan berbagai sistem untuk mencegah kecurangan. Proteksi teknis telah dirancang sejak awal guna memastikan proses asesmen berjalan secara transparan dan akuntabel.

Partisipasi dan Fleksibilitas Pelaksanaan TKA

Secara nasional, tingkat partisipasi TKA pada hari pertama mencapai sekitar 98 persen dari target peserta. Sekitar 2 persen siswa belum mengikuti tes karena beragam alasan, termasuk kesiapan psikologis atau pertimbangan dari orang tua.

Khusus di SMP Negeri 2 Curug, partisipasi siswa mencapai 100 persen. Mu'ti menjelaskan TKA dirancang sebagai sistem "five in one" yang dapat menghasilkan lima jenis data pendidikan secara bersamaan, meliputi kemampuan akademik, literasi, numerasi, karakter, dan kondisi lingkungan belajar.

Pelaksanaan TKA di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) juga telah diantisipasi dengan skema yang fleksibel. Soal tidak sepenuhnya berbasis daring, memungkinkan sekolah dengan keterbatasan perangkat tetap bisa melaksanakan asesmen, bahkan dengan skema berbagi fasilitas dengan sekolah lain.

Bagi satuan pendidikan yang terdampak bencana, seperti kebakaran atau banjir, pemerintah telah menyediakan mekanisme ujian susulan berbasis komputer. Hal ini untuk memastikan semua peserta tetap memperoleh haknya untuk mengikuti tes.

"Dengan sistem yang ada, kami optimistis pelaksanaan TKA dapat memberikan data yang valid dan akurat sebagai dasar perumusan kebijakan pendidikan ke depan," ujar Mu'ti.

Persiapan Siswa dan Dukungan Orang Tua

Kepala SMP Negeri 2 Curug, Purwaningsih, melaporkan bahwa hari pertama TKA di sekolahnya berjalan lancar tanpa kendala berarti. "Alhamdulillah pada sesi pertama berjalan lancar. Kami menggunakan tiga ruang dengan masing-masing sekitar 20 peserta, sehingga total 60 siswa per sesi. Hari ini dilaksanakan dalam tiga sesi," kata Purwaningsih.

Purwaningsih juga memastikan tidak ada kendala teknis, baik dari sisi jaringan maupun sistem. Pihak sekolah mendorong siswa untuk beradaptasi dengan karakter soal TKA tanpa bimbingan khusus.

Salah satu murid SMPN 2 Curug, Heiba Anindya, mengungkapkan awalnya ia merasa takut dan gugup menghadapi TKA karena ini merupakan pengalaman baru. "Tapi saya juga penasaran dengan soal-soalnya, karena dari cerita kakak kelas ada yang bilang sulit, ada juga yang bilang mudah," ungkap Heiba.

Recommended