Penjualan Nintendo Switch 2 mengalami perlambatan setelah debut yang kuat, sehingga Nintendo memutuskan untuk mengurangi produksinya.
Menurut laporan terbaru, produksi Switch 2 untuk kuartal ini dipangkas lebih dari 30%, dari rencana awal 6 juta unit menjadi sekitar 4 juta unit. Penyesuaian ini diperkirakan akan berlanjut hingga April, seperti yang dikutip detikINET dari Techspot, Rabu (25/3/2026).
Penurunan produksi ini dipicu oleh performa penjualan yang tidak sesuai harapan selama musim liburan, terutama di Amerika Serikat. Padahal, periode ini biasanya menjadi puncak penjualan untuk game dan konsol.
Meskipun demikian, Switch 2 sebenarnya mencatat awal yang cukup baik. Hingga akhir 2025, penjualannya mencapai 17,37 juta unit di seluruh dunia, dengan 4,4 juta unit terjual di AS. Angka ini sempat menjadikan Switch 2 sebagai konsol dengan peluncuran tercepat dalam sejarah pasar tersebut.
Namun, momentum penjualan mulai menurun. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya game andalan yang kuat. Judul seperti Metroid Prime 4: Beyond, yang diharapkan menjadi pendorong penjualan, dilaporkan gagal menembus 1 juta kopi pada periode liburan.
Harga juga menjadi faktor pertimbangan. Dengan harga sekitar USD 450, ditambah harga game yang juga naik, minat beli konsumen mulai teruji setelah euforia peluncuran awal mereda. Di Indonesia, Switch 2 dijual dengan harga sekitar Rp 9 jutaan, yang bukan merupakan harga resmi karena Nintendo tidak menjual Switch 2 secara resmi di Indonesia.
Kondisi ini berbeda dengan Nintendo Switch generasi pertama, yang justru mengalami peningkatan penjualan saat musim liburan dan menjadi fenomena global. Konsol tersebut kini telah mencatatkan penjualan 155,37 juta unit, menjadikannya yang terlaris dalam sejarah Nintendo.
Nintendo belum mengubah target penjualan tahunan Switch 2, yang tetap dipatok di angka 19 juta unit. Ini menunjukkan bahwa perusahaan masih optimis permintaan akan tetap stabil dalam jangka menengah.
Situasi ini mengindikasikan bahwa setelah awal yang sangat baik, Switch 2 kini memasuki fase pasar yang lebih normal. Tantangan bagi Nintendo adalah menjaga momentum melalui game baru dan strategi harga untuk mempertahankan minat konsumen.