Nvidia Pertahankan Operasional di Israel Meski Konflik Timur Tengah

CEO Nvidia Jensen Huang menegaskan komitmen 100 persen untuk tetap beroperasi di Israel dan Timur Tengah meskipun situasi keamanan sedang memanas.

CEO Nvidia Jensen Huang menegaskan komitmen perusahaannya untuk tetap beroperasi sepenuhnya di Israel meskipun konflik bersenjata sedang melanda kawasan Timur Tengah pada Rabu (15/4/2026). Penegasan ini muncul sebagai respons atas kekhawatiran mengenai keselamatan ribuan karyawan perusahaan di wilayah tersebut.

Dilansir dari Detik iNET, raksasa teknologi ini saat ini mempekerjakan sekitar 6.000 staf di Israel yang mengelola pengembangan teknologi krusial. Huang menyatakan bahwa dukungan penuh diberikan kepada para pekerja yang menghadapi situasi penuh ketakutan dan kecemasan akibat peperangan yang berkecamuk.

"Saya telah ditanya beberapa kali, apakah kita masih mempertimbangkan untuk berada di Israel? Kami 100% di Israel. Kami 100% mendukung keluarga-keluarga di sana. Kami 100% di Timur Tengah," kata Jensen Huang, CEO Nvidia, saat berbicara di All-In Podcast.

Eksistensi Nvidia di Israel meningkat signifikan setelah akuisisi Mellanox Technologies senilai USD 6,9 miliar pada tahun 2019 silam. Negara tersebut kini menjadi pusat pengembangan utama bagi sistem jaringan dan chip canggih yang menjadi motor utama kecerdasan buatan global.

Selain mempertahankan operasional saat ini, Nvidia juga memiliki rencana ekspansi jangka panjang dengan membangun kampus baru di Kiryat Tivon. Proyek infrastruktur besar ini diproyeksikan mampu menampung hingga 10.000 tenaga kerja tambahan di masa depan.

Huang mengekspresikan keyakinannya bahwa kawasan tersebut akan mencapai stabilitas yang lebih baik setelah konflik berakhir. Ia juga memuji dedikasi tim teknis di Israel yang terus berkontribusi meski berada di bawah tekanan situasi nasional yang sulit.

Perusahaan terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi keamanan seluruh stafnya di Timur Tengah, termasuk karyawan asal Iran yang bekerja di Nvidia. Hingga saat ini, belum ada rencana untuk mengevakuasi atau memindahkan pusat riset utama dari wilayah tersebut.

Recommended