Sebanyak 26 orang muda di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, berhasil mencatatkan total omzet sebesar Rp3,87 miliar dari pengembangan usaha berbasis pangan lokal pada kegiatan Pasar Kreasi Pangan yang berlangsung Sabtu (2/5/2026).
Pencapaian ini merupakan hasil pendampingan intensif selama sembilan bulan melalui program Nurture bersama Prestasi Junior Indonesia untuk memperkuat sistem pangan mandiri di wilayah tersebut. Dilansir dari Medcom, inisiatif ini muncul sebagai respons atas tingginya ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah dan meningkatnya konsumsi di kawasan wisata.
Pertumbuhan ekonomi ini juga memicu penguatan ekosistem usaha lokal, di mana 73 persen peserta telah membangun kemitraan sebagai pemasok maupun reseller. Selain itu, unit usaha yang dikembangkan para pemuda ini mampu menyerap tenaga kerja baru bagi 42 orang muda lainnya di sekitar Manggarai Barat.
Data menunjukkan adanya pergeseran gaya pengelolaan usaha, dengan 85 persen peserta mulai mengadopsi teknologi digital untuk proses produksi, pemasaran, hingga pencatatan keuangan secara efisien. Transformasi ini dinilai penting untuk mengubah pola usaha tradisional menjadi bisnis yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
"Orang muda mampu menciptakan efek berganda ketika diberikan akses pada pengetahuan, pendampingan, dan jejaring yang memadai," ujar Natalia Soebagjo, Dewan Nasional Prestasi Junior Indonesia. Ia menambahkan bahwa dampak tersebut membentuk ekosistem baru yang menghubungkan pemasok, pelaku usaha, dan pasar secara luas.
Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, menyatakan bahwa wilayahnya memiliki potensi besar pada sektor pertanian, perikanan, dan olahan tradisional. Pihaknya terus mendorong pendekatan kolaboratif lintas sektor agar pengembangan pangan lokal dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat setempat.
Di sisi lain, tantangan lingkungan juga menjadi sorotan utama dalam pengembangan wilayah Labuan Bajo. Riset WRI Indonesia bersama Garda Pangan memperkirakan timbulan sisa pangan dan sampah makanan (food waste) di kawasan tersebut mencapai 4,8 juta kilogram pada tahun 2024.
Uniknya, kontributor terbesar sampah makanan di Labuan Bajo berasal dari sektor nonrumah tangga seperti hotel, restoran, dan kapal wisata. Saat ini, sekitar 58,9 persen dari sisa pangan tersebut telah dimanfaatkan kembali oleh masyarakat untuk diolah menjadi pakan ternak sebagai bentuk praktik pengelolaan berkelanjutan.