Raksasa teknologi Oracle dilaporkan telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan karyawannya sebagai bagian dari pemangkasan besar-besaran. Langkah ini, yang diperkirakan berdampak pada sekitar 30.000 pegawai secara global, dilakukan di tengah upaya perusahaan untuk mendanai lebih banyak infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
PHK ini berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah perusahaan. Karyawan di Amerika Serikat, India, Kanada, Meksiko, dan beberapa negara lain mulai menerima pemberitahuan melalui email dari "Kepemimpinan Oracle" pada hari Selasa sekitar pukul 6 pagi waktu setempat, setelah itu akses mereka ke perusahaan langsung diputus.
Menurut berbagai laporan berita lokal, sekitar 12.000 karyawan Oracle di India termasuk yang terkena dampak PHK. Email pemberhentian dari Oracle menyebutkan "perubahan organisasi lebih luas" sebagai alasan, yang diinterpretasikan sebagai ambisi perusahaan untuk membangun lebih banyak pusat data AI.
Sebuah kutipan dari email tersebut menyatakan, "Setelah mempertimbangkan dengan saksama kebutuhan bisnis Oracle saat ini, kami telah mengambil keputusan untuk menghapus peran Anda sebagai bagian dari perubahan organisasi yang lebih luas. Oleh karena itu, hari ini adalah hari kerja terakhir Anda."
Dikutip dari Detik iNET yang melansir Independent, penyedia layanan cloud tersebut memiliki 162.000 karyawan per Mei 2025. Angka pemangkasan ini berarti dapat memengaruhi hingga 18 persen dari total tenaga kerja global Oracle.
Karyawan yang terdampak juga diberitahu bahwa mereka akan menerima paket pesangon setelah menandatangani dokumen pemutusan hubungan kerja, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Selain itu, akses ke fasilitas kerja seperti komputer, email, pesan suara, dan file akan segera dinonaktifkan, dan karyawan tidak dapat lagi masuk ke sistem perusahaan.
PHK massal ini mengejutkan banyak pihak mengingat raksasa teknologi tersebut baru saja melaporkan kinerja kuartal terakhir yang solid, dengan pendapatan naik 22 persen dan hasil keuangan melampaui ekspektasi. Namun, saham perusahaan mengalami tren penurunan, anjlok hampir 25 persen sejak awal tahun, lebih besar dibandingkan mayoritas perusahaan teknologi besar lainnya.
Analis memperkirakan bahwa dengan memangkas 30.000 karyawan, Oracle berpotensi menghemat arus kas bebas hingga USD 10 miliar. Raksasa teknologi itu juga dilaporkan sedang menguji coba program yang memanfaatkan agen AI untuk melakukan pekerjaan administrasi basis data rutin, tugas yang sebelumnya memerlukan tim insinyur.