Sejumlah organisasi di Indonesia dan Asia Pasifik berencana meningkatkan adopsi platform keamanan siber terpadu hingga 60 persen pada Selasa (12/5/2026) guna membendung ancaman berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang kian kompleks. Langkah ini diambil karena sistem keamanan lama mulai kewalahan menghadapi volume peringatan ancaman yang tinggi.
Hasil studi terbaru dari Fortinet bersama Forrester Consulting yang dilansir dari Medcom menunjukkan adanya pergeseran besar dalam strategi pertahanan digital di kawasan ini. Sebanyak 69 persen organisasi mengidentifikasi serangan berbasis AI sebagai risiko eksternal yang paling mengkhawatirkan saat ini.
Tekanan operasional internal turut memicu kebutuhan integrasi ini karena 64 persen responden mengeluhkan fragmentasi alat keamanan. Kondisi tersebut menyebabkan beban peringatan berlebih atau alert overload yang menyulitkan tim TI dalam memilah ancaman nyata di lapangan.
Data menunjukkan bahwa 46 persen organisasi saat ini gagal membedakan ancaman serius akibat tumpukan notifikasi keamanan. Selain itu, sekitar 43 persen perusahaan dilaporkan masih mengandalkan proses manual yang lambat dalam menangani insiden siber mereka.
Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia, menjelaskan bahwa fragmentasi visibilitas dan peningkatan volume peringatan memperumit proses deteksi dini. Kesenjangan ini menjadi penghambat utama bagi perusahaan yang ingin memaksimalkan potensi teknologi otomasi di lingkungan kerja mereka.
"Mereka ingin memanfaatkan AI untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi, namun sering kali belum memiliki fondasi terintegrasi untuk mewujudkan hal tersebut," ujar Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia.
Meskipun adopsi platform terpadu saat ini baru mencapai 29 persen, angka ini diprediksi melonjak dalam dua tahun ke depan. Dorongan utama transformasi ini adalah kebutuhan untuk menyederhanakan pengelolaan lingkungan hybrid dan meningkatkan efisiensi operasional analis keamanan.
Sebanyak 95 persen organisasi juga berencana menambah anggaran belanja khusus untuk teknologi AI guna memperkuat pertahanan mereka. Mayoritas perusahaan optimis bahwa penggunaan AI mampu meningkatkan akurasi deteksi ancaman hingga lebih dari 10 persen.
Namun, transisi menuju sistem terpadu masih menghadapi sejumlah kendala teknis dan finansial. Sekitar 51 persen organisasi mengkhawatirkan tingginya biaya migrasi, sementara 46 persen lainnya masih meragukan efektivitas platform lintas domain dalam menjaga data perusahaan.