Masyarakat diimbau untuk tidak panik terkait gejolak di Timur Tengah. Pemerintah telah menyiapkan solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pasokan BBM impor.
Menurut Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, sekitar 19 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Arab Saudi. Namun, langkah preventif telah disiapkan dengan mengimpor dari negara yang tidak terdampak konflik.
Fathul Nugroho menyampaikan bahwa penutupan Selat Hormuz oleh Iran tidak menjadi masalah besar bagi Indonesia. Ia menjelaskan bahwa saat ini, 81 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari negara yang tidak terlibat konflik di Timur Tengah.
Dari April 2025 hingga Maret 2026, Indonesia paling banyak mengimpor minyak mentah dari Nigeria sebanyak 34,07 juta barel (25% dari total impor). Kemudian dari Angola 28,50 juta barel (21%), negara lainnya 47,40 juta barel (35%), dan Arab Saudi 28,50 juta barel (19%).
"Artinya kita lebih banyak mengimpor dari negara yang tidak terlibat konflik. Artinya pasokan BBM Indonesia tetap aman," ujar Fathul.
Fathul juga mengimbau agar masyarakat tidak salah paham terkait informasi cadangan BBM Indonesia yang hanya cukup untuk 20 hari ke depan. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh keterbatasan daya tampung Pertamina.
Kapasitas penyimpanan BBM nasional Pertamina saat ini adalah 6,10 juta KL (67%), sedangkan non-Pertamina 3,06 juta KL (33%).
"Hingga saat ini, cadangan operasional BBM Indonesia tergolong aman hingga setelah momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026," katanya.
Dengan kolaborasi yang kuat antar pemangku kepentingan, sektor energi Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan ketahanan sistem energi, serta memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi di tengah dinamika global.