Konservasionis Paul Rosolie membagikan rekaman langka yang mendokumentasikan pertemuan menegangkan dengan suku primitif terisolasi di pedalaman hutan Amazon dalam sesi podcast bersama Alex Fridman pada Rabu (22/4/2026).
Pertemuan tersebut hampir berujung pada kekerasan ketika rombongan Rosolie nyaris dipanah oleh anggota suku yang muncul dengan senjata lengkap di tepi sungai. Rekaman yang diambil menggunakan lensa 800mm tersebut diklaim sebagai dokumentasi pertama di dunia yang memperlihatkan keberadaan mereka secara detail.
Dilansir dari Detik iNET, Rosolie mengungkapkan bahwa kelompok suku tersebut muncul dengan koordinasi yang sangat hati-hati sambil membawa tombak dan busur panah. Peneliti yang telah menghabiskan waktu 20 tahun di Amazon ini sempat merasa terancam sebelum suasana berubah menjadi lebih kondusif.
"Saya melihat ke segala arah untuk memperkirakan akan dipanah dari arah mana," kata Paul Rosolie, Pengarang dan Konservasionis. Ketegangan mereda setelah para anggota suku menurunkan senjata mereka dan menunjukkan rasa ingin tahu terhadap rombongan peneliti tersebut.
Untuk menghindari konflik, rombongan Rosolie menghanyutkan sebuah perahu kecil berisi pisang sebagai bentuk pemberian kepada suku tersebut. Para anggota suku yang semula tampak siap berperang kemudian mengambil buah-buahan itu sebelum kembali menghilang ke dalam rimbunnya hutan hujan.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena kontras dengan tragedi yang menimpa misionaris John Allen Chau di Pulau Sentinel Utara, India, pada 2018 silam. Chau tewas dipanah setelah nekat mendekati suku Sentinel yang sangat tertutup meskipun otoritas India telah melarang segala bentuk kontak.
Para ahli mengestimasi masih terdapat sekitar 200 kelompok masyarakat terisolasi yang tersebar di wilayah hutan Amazon antara Brasil dan Peru. Hingga saat ini, pemantauan terhadap komunitas-komunitas tersebut lebih banyak dilakukan melalui citra satelit dan pengamatan udara guna menjaga keamanan kedua belah pihak.