Menjelang Hari Raya Idul Fitri, kawasan Pasar Kembang Cikini, Jakarta Pusat, dipenuhi tumpukan parsel Lebaran. Para pedagang menjajakan berbagai jenis parsel berisi kue, makanan ringan, minuman, hingga produk pecah belah di lapak-lapak musiman sepanjang Jl. Cikini Kramat.
Lutfi, seorang pedagang parsel di Cikini Gold Center (CGC), memanfaatkan momen Ramadan dengan membuka lapak tambahan di sudut jalan Pasar Kembang. Ia mengaku bahwa lapak musiman ini dapat memberikan keuntungan hingga ratusan juta rupiah selama bulan suci.
"Lebaran bisa dapat dua tiga kali dari modal sih. (Omzet ratusan juta) Alhamdulillah itu sampai sih, berkat Ramadan. (Rp 100-200 juta) Ada, tapi kan kita juga banyak ke karyawan jadi bertambah cuma buat Lebaran doang," kata Lutfi di lapak parselnya, Senin (2/3/2026).
Menurut Lutfi, keuntungan ini menjadi 'THR' baginya dan modal usaha untuk setahun ke depan. Berbeda dengan hari biasa, penjualan parsel sangat sepi, hanya laku satu atau dua buah saja.
Harga parsel yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp 200.000 berisi makanan dan minuman ringan, hingga Rp 2 juta atau lebih yang berisi campuran barang pecah belah mewah dan makanan ringan.
"Kalau di sini yang paling murah ada dari Rp 200.000 yang isinya paling makanan sama minuman-minuman ringan saja, sampai Rp 1-2 juta juga ada yang isinya campur sama pecah belah. Yang mahal itu pecah belah sih, bisa sampai puluhan juta kalau mau," terangnya.
Jika ada parsel yang tidak laku, Lutfi menjelaskan bahwa produk pecah belah dapat disimpan dan dimanfaatkan kembali untuk hari raya besar lainnya. Namun, untuk parsel berisi makanan dan minuman ringan, isinya akan dibongkar dan dijual murah untuk menghindari kerusakan atau kedaluwarsa.
"Kalau memang nggak laku bisa kita bongkar sih. Kalau yang pecah belah kan masih bisa kita simpan. Tapi kalau yang makanan biasanya kita obral lagi, jual murah gitu biar dia habis. Soalnya kalau makanan kan nggak mungkin kita jual lagi buat tahun depan misalnya, takut isinya rusak atau sudah expired. Nggak mau kita ambil risiko buat makanan," tutur Lutfi.
Lutfi menambahkan bahwa hampir setiap Ramadan, parsel-parselnya selalu ludes terjual karena sebagian besar berasal dari pesanan. Dengan demikian, parsel yang dibuat sesuai dengan kebutuhan pembeli.
"Parsel kita bikin terus, dari sebulan sebelum Ramadan juga sudah kita bikin buat persiapan. Tapi penjualan kan banyak dari pesanan, jadi jarang nggak habis. Kalau pesanan kan dia sudah bayar DP (down payment/uang muka) minimal 50% kan, baru uang itu kita pakai buat modal bikin sesuai permintaan saja," ungkapnya.
Lutfi juga mengatakan bahwa ia tidak menerima pesanan lagi sejak H-7 Lebaran. Pembeli yang datang bisa langsung membeli parsel yang tersedia untuk menghabiskan sisa barang.
"Kita kalau sudah H-7 Lebaran itu sudah nggak terima pesanan, jadi kalau ada yang datang untuk beli, bisa ambil dari yang ada saja, jatuhnya habiskan sisa barang lah," kata Lutfi.