Kesenjangan pelatihan teknologi terjadi di Indonesia setelah hasil survei mengungkap hanya 33 persen pekerja yang mendapatkan pengembangan keterampilan kecerdasan buatan (AI) dari perusahaan pada Minggu, 26 April 2026.
Data tersebut disampaikan oleh President Director Salesforce Indonesia, Andreas Diantoro, dalam rangkaian acara Agentforce World Tour Jakarta 2026 di Pacific Place, Jakarta. Temuan ini menyoroti minimnya dukungan perusahaan dalam menyiapkan sumber daya manusia.
Survei tersebut melibatkan 1.000 pekerja berpengetahuan (knowledge worker) dari berbagai sektor strategis, meliputi keuangan, pemasaran, teknologi informasi, hingga manufaktur di Indonesia, sebagaimana dilansir dari Medcom.
"Hanya 33% pekerja yang mengaku bahwa mereka mendapatkan pelatihan dan pengembangan keterampilan AI dari perusahaannya," ujar Andreas Diantoro, President Director Salesforce Indonesia. Ia menilai adopsi AI di lingkungan profesional membutuhkan konteks data perusahaan yang lebih kompleks.
Andreas menjelaskan bahwa kemampuan dasar seperti memberikan perintah atau prompt pada alat AI generatif belum cukup untuk skala bisnis. Perusahaan dituntut untuk menyediakan alat AI kelas enterprise yang memiliki batasan keamanan dan hasil yang dapat diandalkan.
Sebagai langkah strategis, Salesforce memperkenalkan konsep AI fluency yang mencakup empat pilar utama, yaitu redesign, reskill, redeploy, dan rebalance. Kemampuan ini bertujuan agar tenaga kerja mampu berkolaborasi secara percaya diri dengan teknologi untuk mendorong dampak bisnis.
Transformasi sumber daya manusia dinilai sama pentingnya dengan investasi pada perangkat keras atau perangkat lunak. Perusahaan harus merancang ulang sistem teknologi mereka untuk memastikan karyawan memiliki akses terhadap alat bantu yang bermutu tinggi.
Meskipun otomatisasi meningkat, Salesforce menekankan bahwa peran manusia tetap menjadi keunggulan kompetitif yang utama dalam sebuah organisasi. Kehadiran AI agentik justru dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan fokus pekerja pada aspek inovasi dan kreativitas.
Saat ini, kesiapan SDM menjadi tantangan utama karena pemanfaatan peluang AI secara optimal memerlukan perubahan mendasar pada sisi operasional dan budaya kerja. Perusahaan diharapkan memandang AI sebagai bagian dari evolusi tenaga kerja secara menyeluruh.