Eskalasi ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berpotensi menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi 20% perdagangan minyak dan LNG dunia. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas energi nasional.
Menurut Firnando Ganinduto, Anggota Komisi VI DPR RI, gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak global, yang akan memberikan tekanan tambahan pada negara pengimpor seperti Indonesia. Ia mendesak respons cepat dan strategis dari pemerintah untuk mengatasi potensi dampak tersebut.
Firnando mengutip pernyataan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang menyebutkan bahwa 20-25% impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz. Hal ini membuat Indonesia rentan terhadap gangguan distribusi dan fluktuasi harga global, yang pada akhirnya dapat memengaruhi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang telah melakukan diversifikasi pasokan minyak mentah dengan mengalihkan sebagian impor dari Timur Tengah ke AS. Menurutnya, kebijakan ini krusial untuk menjaga kepastian suplai energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Selain minyak mentah, Firnando juga menyoroti bahwa sekitar 30% impor LPG Indonesia masih bergantung pada kawasan Timur Tengah. Ia menekankan perlunya segera mencari alternatif pemasok dari wilayah lain. Pemerintah telah memberikan jaminan bahwa pasokan energi domestik masih aman untuk beberapa minggu mendatang. Namun, Firnando menekankan bahwa mitigasi jangka pendek harus diiringi dengan langkah struktural jangka panjang.
Ia mendorong Pertamina untuk memperkuat strategi pengamanan pasokan dan memperluas jaringan perdagangan energi yang lebih beragam, dengan tujuan mengurangi risiko ketergantungan pada satu kawasan.
Lebih lanjut, Firnando menegaskan, "Kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gangguan distribusi dan fluktuasi harga global yang dapat berdampak langsung pada APBN."
Firnando menambahkan bahwa situasi ini harus menjadi momentum untuk mempercepat penguatan produksi migas dalam negeri dan mendorong transisi energi baru terbarukan. Diversifikasi impor, menurutnya, hanyalah solusi taktis. Sementara kemandirian dan ketahanan energi nasional adalah strategi jangka panjang yang akan menentukan stabilitas ekonomi Indonesia di masa depan.