Puluhan aktivis lingkungan menyelenggarakan upacara pemakaman simbolis untuk sistem operasi Windows 10 di sebuah taman publik di Paris, Prancis, pada awal Mei 2026. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Microsoft yang berencana menghentikan dukungan teknis perangkat lunak tersebut pada 14 Oktober 2025.
Massa yang mengenakan pakaian serba hitam membawa bunga dan replika peti mati bertuliskan "Windows 10 RIP" untuk menggambarkan ancaman terhadap lingkungan. Dilansir dari Detik iNET, para demonstran mengkhawatirkan kebijakan tersebut akan memicu lonjakan limbah elektronik (e-waste) dalam skala besar di seluruh dunia.
Para pengunjuk rasa menekankan bahwa jutaan komputer yang masih berfungsi optimal terancam dibuang karena tidak mendapatkan pembaruan keamanan lagi. Hal ini disebabkan oleh persyaratan perangkat keras Windows 11 yang lebih tinggi, sehingga memaksa pengguna untuk membeli perangkat baru daripada sekadar memperbarui perangkat lunak.
"Jutaan komputer yang masih berfungsi dengan baik bisa berakhir di tempat sampah hanya karena tidak lagi mendapat pembaruan keamanan," kata salah satu peserta aksi yang dikutip oleh Neowin melalui laporan Detik iNET.
Aksi kolaboratif ini melibatkan enam organisasi besar di Prancis, termasuk Non-Violent Action COP21, Alternatiba, April, Stop Planned Obsolescence, Que Choisir Ensemble, dan Zero Waste France. Koalisi tersebut mendesak Microsoft untuk memberikan perpanjangan dukungan teknis setidaknya hingga tahun 2030 demi menjaga keberlanjutan lingkungan.
Selain tuntutan kepada Microsoft, koalisi aktivis ini menyarankan masyarakat untuk bermigrasi ke sistem operasi open-source seperti Linux, termasuk distribusi Ubuntu, Linux Mint, atau Fedora. Mereka menilai platform tersebut lebih ramah lingkungan karena mampu memberikan dukungan jangka panjang tanpa mengharuskan penggantian perangkat keras secara paksa.
Langkah para aktivis ini sejalan dengan tren di internal pemerintah Prancis yang mulai mengurangi ketergantungan pada produk luar negeri melalui lembaga digital DINUM. Pemerintah setempat kini mendorong penggunaan solusi open-source seperti openSUSE dan LibreOffice di berbagai instansi untuk meningkatkan kedaulatan digital dan keamanan data nasional.
Hingga saat ini, pihak Microsoft dilaporkan belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan para aktivis lingkungan di Paris tersebut. Seremoni unik ini menambah daftar panjang kritik kreatif terhadap industri teknologi global terkait dampak kebijakan perusahaan terhadap ekosistem planet Bumi.