Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dengan mendorong penggunaan pendekatan berbasis data guna menanggapi fenomena peningkatan generasi "sandwich". Generasi ini merujuk pada kelompok usia produktif yang memiliki tanggung jawab ekonomi ganda, yaitu menopang kebutuhan anak-anak dan orang tua secara bersamaan.
Pengenalan instrumen analisis National Transfer Accounts (NTA) menjadi fokus utama dalam upaya ini. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa beban generasi "sandwich" tidak dapat terus-menerus dibebankan tanpa batas. Meskipun dituntut tetap produktif, kapasitas mereka memiliki keterbatasan yang perlu diperhatikan, seperti dikutip dari Antara dan dilansir dari Medcom.
Pratikno menjelaskan, "Karena sandwich generation ini kan ada limitasinya juga. Sandwich generation itu harus produktif. Kalau tidak, dia tidak bisa menopang ke bawah dan tidak bisa menopang ke atas. Tetapi, kemampuan sandwich generation juga ada batasnya." Pernyataan ini disampaikan dalam agenda Dialog Menuju Kesejahteraan Antar-Generasi di Gedung Bappenas.
Pendekatan NTA dirancang untuk memetakan aliran sumber daya ekonomi antar kelompok usia. Ini mencakup anak-anak sebagai konsumen, kelompok usia produktif sebagai penghasil, hingga lansia yang kembali membutuhkan dukungan. Melalui metode ini, pemerintah dapat mengidentifikasi distribusi beban ekonomi secara lebih transparan, baik yang terjadi melalui mekanisme keluarga, sistem pajak, maupun kepemilikan aset.
Implementasi NTA diharapkan mampu merumuskan kebijakan publik yang tidak lagi didasarkan pada asumsi, melainkan pada data yang lebih akurat dan terukur. Lebih lanjut, instrumen ini juga memiliki peran krusial dalam menentukan prioritas pembangunan. Contohnya adalah menyeimbangkan alokasi dana untuk pembiayaan pendidikan anak dan layanan kesehatan bagi kelompok lansia.
Pendekatan berbasis data ini juga berfungsi sebagai alat proyeksi jangka panjang dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045. Hal ini esensial untuk mempersiapkan kebutuhan tenaga pendidik, tenaga kesehatan, serta infrastruktur yang selaras dengan perubahan struktur demografi penduduk Indonesia.
Pratikno menambahkan, isu ini mencakup siklus kehidupan seluruh masyarakat, mulai dari pembiayaan pendidikan anak, produktivitas usia kerja, hingga pembiayaan kesehatan di usia lanjut. Dia mengilustrasikan, "Siapa yang sebenarnya membayar anak-anak kita bersekolah. Bisa orang tua, kombinasi dengan pemerintah dan juga masyarakat. Siapa yang membayar rumah sakit untuk kakek-kakek kita? Siapa yang bekerja menghasilkan uang?"
Mengurangi Tekanan pada Generasi Sandwich
Penerapan NTA diharapkan dapat meringankan tekanan ekonomi yang selama ini ditanggung generasi "sandwich". Dengan distribusi manfaat pembangunan yang lebih seimbang, beban tidak lagi terpusat pada satu kelompok usia. Alat ukur ini juga menjamin agar beban ekonomi tidak terlalu berat, serta mengidentifikasi investasi yang paling mendesak dan berdampak besar untuk memastikan penggunaan anggaran yang bijak demi kualitas hidup warga.
Pemerintah juga mendorong seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk memanfaatkan NTA sebagai dasar perumusan kebijakan. Kerangka besar dapat disusun secara nasional, namun implementasi di daerah perlu disesuaikan dengan kondisi demografi masing-masing.
Di beberapa wilayah, kebijakan mungkin akan lebih berfokus pada pendidikan anak, sementara di daerah lain, penguatan layanan kesehatan lansia atau bantuan sosial bagi kelompok usia tua mungkin menjadi prioritas. Melalui pendekatan yang lebih terukur ini, diharapkan tekanan terhadap generasi "sandwich" dapat dikelola lebih baik, sekaligus memastikan pembangunan yang adil dan berkelanjutan antar generasi.