Pemerintah Indonesia memperkuat strategi ketahanan di sektor pangan, energi, dan air untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional pada Kamis (23/4/2026). Langkah antisipatif ini diambil guna menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik global yang dinilai melampaui krisis-krisis sebelumnya.
Board of Advisors Prasasti, Hashim Djojohadikusumo, menyatakan bahwa fokus pada keamanan tiga sektor vital tersebut menjadi kunci utama validasi strategi pemerintah. Dilansir dari Detik Finance, kondisi global saat ini dianggap sebagai salah satu periode terberat dalam sejarah modern.
Di sektor pangan, pemerintah telah mengamankan cadangan beras nasional dalam jumlah yang signifikan. Saat ini, stok beras yang dikelola oleh negara dilaporkan telah mencapai angka 5 juta ton guna menjamin pasokan domestik.
"Apapun yang terjadi, Indonesia aman untuk satu tahun ini, bahkan mungkin dua tahun," ujar Hashim Djojohadikusumo yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi dalam acara Prasasti Luncheon Talk di Jakarta.
Mengenai ketahanan energi, Hashim mengakui Indonesia masih bergantung pada impor namun telah melakukan diplomasi tingkat tinggi untuk mengamankan stok. Indonesia dijadwalkan segera menerima suplai minyak mentah sekitar 100 juta barel dari Rusia dalam waktu dekat.
Selain itu, terdapat opsi tambahan pasokan hingga 50 juta barel untuk memperkuat cadangan energi nasional. Kemandirian pembiayaan dan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 27 miliar diklaim membuat Indonesia tidak perlu bergantung pada pembiayaan eksternal.
Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas, Eka Chandra Buana, menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal. Menurutnya, pemerintah belum memiliki rencana untuk memperlebar defisit anggaran dan lebih memilih mendorong belanja negara yang produktif.
Dari sisi investasi, Managing Partner Ashmore Asset Management Indonesia, Arief Wana, mencatat adanya perbaikan fundamental ekonomi dalam enam bulan terakhir. Hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah uang beredar serta penurunan suku bunga dan imbal hasil obligasi.
Meskipun indikator pasar modal dan ekuitas menunjukkan tren membaik, investor tetap mewaspadai risiko dinamika eksternal. Pertumbuhan laba perusahaan pada tahun 2026 diprediksi akan mengalami moderasi jika dibandingkan dengan proyeksi awal tahun.