Kendaraan listrik yang mengalami mati total atau shutdown pada Minggu (3/5/2026) memerlukan prosedur penanganan khusus karena sistem keamanan otomatis mengunci roda secara permanen. Kondisi ini membuat mobil listrik tidak dapat didorong secara manual seperti kendaraan konvensional berbahan bakar bensin.
Pendiri EV Safe, Mahaendra Gofar, menjelaskan bahwa sistem rem parkir pada mobil listrik biasanya akan aktif secara otomatis ketika suplai listrik terputus sepenuhnya. Fitur ini dirancang sebagai standar keselamatan agar kendaraan tidak menggelinding saat kehilangan daya, namun menyulitkan proses evakuasi darurat.
"Pada mobil listrik yang mogok, apabila sistem kelistrikan mati total, biasanya mobil ada di posisi (mode) 'P' dan rem parkir aktif. Ini safety supaya mobil tidak gelinding," kata Mahaendra Gofar, Pendiri EV Safe, sebagaimana dilansir dari Medcom.
Gofar menambahkan bahwa untuk memindahkan kendaraan tersebut, pemilik harus memberikan daya sementara menggunakan kabel jumper atau powerbank khusus jumper. Langkah ini dilakukan untuk mengaktifkan electronic shifter agar posisi transmisi dapat dipindahkan ke mode 'N' atau netral.
Berdasarkan data teknis, mayoritas kasus mobil listrik yang mogok disebabkan oleh kondisi aki 12V yang sudah lemah atau mati total. Aki ini merupakan komponen vital yang menyuplai daya untuk sistem elektronik dan komputer kendaraan sebelum baterai traksi utama bekerja.
Para pemilik kendaraan diimbau untuk selalu melakukan pengecekan rutin pada status aki 12V guna memastikan sistem kelistrikan tetap berfungsi. Jika sistem kelistrikan tidak merespons, pemeriksaan pertama harus difokuskan pada terminal dan daya simpan aki pendukung tersebut.
Penegasan mengenai sulitnya mendorong mobil listrik saat mati total ini mengklarifikasi pandangan masyarakat yang sempat menganggap hal tersebut sebagai mitos. Tanpa adanya daya listrik yang cukup untuk melepas rem elektronik, roda kendaraan akan tetap terkunci rapat demi alasan keamanan.