Tim peneliti internasional mengungkap temuan pola pergerakan batuan misterius di kedalaman 2.900 kilometer di bawah permukaan Bumi pada Rabu (15/4/2026). Fenomena deformasi kompleks ini terdeteksi pada zona batas antara mantel dan inti Bumi melalui analisis gelombang seismik yang sangat detail.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal The Seismic Record ini memberikan gambaran paling jelas mengenai aktivitas tersembunyi di bagian terdalam planet. Dilansir dari Detik iNET, material batuan panas di wilayah tersebut terus bergerak secara perlahan dan memicu pergeseran lempeng tektonik di permukaan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa deformasi banyak terkonsentrasi di area tempat lempeng tektonik yang sudah tenggelam berkumpul. Wilayah tersebut berada tepat di atas batas inti dan mantel, yang dikenal sebagai salah satu zona paling ekstrem di Bumi.
Jonathan Wolf, geofisikawan dari UC Berkeley, memimpin tim peneliti dengan menggunakan lebih dari 16 juta data gelombang gempa global. Data tersebut digunakan untuk memetakan struktur internal melalui fenomena anisotropi seismik, yakni perbedaan kecepatan gelombang tergantung arah pergerakannya.
"Kita tahu deformasi di mantel atas dipengaruhi pergerakan lempeng. Namun kita belum punya pemahaman skala besar untuk aliran di mantel terdalam, dan itulah yang ingin kami capai," kata Jonathan Wolf, geofisikawan UC Berkeley.
Pemetaan ini mencakup hampir 75 persen wilayah mantel terdalam, menjadikannya salah satu studi paling komprehensif hingga saat ini. Hasil analisis menunjukkan adanya tanda-tanda deformasi pada sekitar dua pertiga area yang diteliti oleh tim ilmuwan.
Penyebab kondisi ekstrem ini diduga berasal dari dua kemungkinan utama, yaitu jejak lama lempeng tektonik yang tenggelam atau deformasi baru akibat tekanan tinggi. Tekanan dan suhu yang luar biasa di dekat inti Bumi diketahui mampu mengubah struktur mineral dan menciptakan pola baru dalam batuan.
Pengetahuan mengenai sirkulasi material di kedalaman ini dianggap penting untuk menjelaskan berbagai fenomena geologi di permukaan. Para ilmuwan berharap pemetaan deformasi ini dapat membantu memprediksi pergerakan lempeng tektonik dan aktivitas vulkanik di masa depan secara lebih akurat.