Ilmuwan Temukan Lanskap Purba Berusia 34 Juta Tahun di Bawah Es Antartika

Tim peneliti menemukan wilayah seluas 20 ribu kilometer persegi yang membeku di bawah lapisan es Antartika menggunakan teknologi radar satelit.

Tim peneliti internasional mengumumkan penemuan lanskap raksasa berupa sistem sungai dan lembah purba yang terkubur di bawah lapisan es Antartika setebal 2 kilometer pada Rabu, 15 April 2026. Wilayah tersembunyi ini berhasil dipetakan menggunakan teknologi citra satelit dan radar penembus es.

Area yang ditemukan memiliki luas mencapai lebih dari 20.000 kilometer persegi, atau setara dengan ukuran sebuah negara kecil. Lanskap ini mencakup lembah sedalam 1.200 meter serta dataran tinggi yang terbentuk oleh aktivitas aliran air jutaan tahun silam sebelum tertutup es permanen.

Data penelitian menunjukkan bahwa bentang alam tersebut telah terawetkan dalam kondisi membeku selama sekitar 34 juta tahun. Transformasi ini terjadi saat benua Antartika berubah drastis dari wilayah beriklim hangat menjadi daratan es seperti yang dikenal saat ini, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

"Ini adalah dunia yang hilang, terkubur di bawah es selama jutaan tahun," tulis laporan penelitian tersebut yang dikutip melalui ClickPetroleoeGas. Para ahli meyakini bahwa sebelum periode pembekuan, wilayah ini merupakan rumah bagi hutan beriklim sedang dengan sistem sungai yang sangat aktif.

Penggunaan radar penembus es menjadi kunci utama dalam studi ini karena para ilmuwan tidak dapat mengamati permukaan tanah secara langsung. Teknologi tersebut memungkinkan identifikasi detail topografi kompleks, termasuk jalur sungai purba yang dipahat oleh air, bukan oleh pergerakan es.

Penemuan ini memberikan bukti fisik yang kuat mengenai sejarah iklim Antartika yang pernah mendukung kehidupan di masa lalu. Selain itu, pemetaan struktur bawah es sangat krusial bagi para ilmuwan untuk memahami dinamika pergerakan es di masa sekarang.

Keberadaan lembah dan dataran tinggi di bawah lapisan es memengaruhi cara es mencair dan bergerak menuju lautan. Informasi ini akan digunakan untuk menyusun model prediksi yang lebih akurat mengenai kenaikan permukaan air laut global akibat perubahan iklim di masa depan.

Recommended