Awan Pelangi Muncul di Langit Akibat Difraksi Cahaya Matahari

Dosen IPB menjelaskan fenomena awan pelangi atau iridescent clouds yang viral terjadi karena difraksi cahaya oleh kristal es atau tetesan air tipis.

Fenomena optika atmosfer berupa awan berwarna-warni atau awan pelangi (iridescent clouds) muncul dan menarik perhatian masyarakat di berbagai wilayah pada Senin, 4 Mei 2026. Kejadian alam ini terjadi saat sinar matahari mengalami proses difraksi oleh partikel droplet atau kristal es kecil di dalam awan tipis.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa warna-warna seperti merah, hijau, biru, dan ungu muncul di pinggiran awan akibat radiasi polikromatik matahari. Dilansir dari Medcom, partikel yang mendifraksi cahaya tersebut berukuran sangat kecil, yakni antara 0,001 hingga 0,01 mm.

"Karena cahaya matahari merupakan radiasi polikromatik, maka cahaya yang mengalami difraksi dengan panjang gelombang yang berbeda akan saling menguatkan atau saling melemahkan pada sudut tertentu," kata Sonni Setiawan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University.

Fenomena ini umumnya teramati pada jenis awan tinggi yang memiliki struktur tipis, seperti awan altokumulus dan sirrokumulus di ketinggian 5–10 kilometer. Selain itu, awan lentikular di atas pegunungan dan awan polaris stratosfer di wilayah kutub juga sering menampilkan gradasi warna serupa.

Sonni menegaskan bahwa ketebalan awan menjadi syarat mutlak terjadinya fenomena ini karena cahaya harus mampu menembus dan berinteraksi dengan partikel di dalamnya. Jika awan terlalu tebal, cahaya matahari akan tertutup sehingga efek spektrum warna tidak akan terlihat oleh mata manusia.

Meskipun tampilannya menyerupai pelangi, proses fisika di balik iridescent clouds berbeda dengan pelangi biasa yang terbentuk melalui pembiasan atau refraksi. Awan pelangi menggunakan prinsip difraksi celah tunggal, di mana setiap tetesan air atau kristal es bertindak sebagai celah yang menyebarkan cahaya.

Perbedaan ukuran partikel juga memengaruhi hasil akhir penampakan warna di langit. Pada awan pelangi, diameter tetesan air berkisar antara 1–10 mikrometer, jauh lebih kecil dibandingkan tetesan air hujan pada pelangi biasa yang mencapai ukuran sekitar 1 mm.

Warna biru dengan panjang gelombang pendek akan muncul lebih dekat dengan sumber cahaya matahari karena sudut difraksinya yang kecil. Sebaliknya, warna merah yang memiliki panjang gelombang lebih panjang akan terdifraksi pada sudut yang lebih besar sehingga posisinya tampak lebih jauh.

Kesergaman ukuran tetesan air di dalam awan menjadi faktor penentu kejelasan warna yang dihasilkan. Jika ukuran tetesan tidak seragam, pola difraksi akan saling menghapus dan hanya menyisakan warna putih buram, sehingga keindahan spektrum warna tidak akan muncul.

Recommended