BRIN Kukuhkan Lima Profesor Riset Baru untuk Pembangunan Berkelanjutan

BRIN akan mengukuhkan lima profesor riset baru pada 31 Maret 2026, memaparkan riset unggulan untuk solusi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan mengukuhkan lima profesor riset baru dalam sebuah sidang terbuka. Acara ini dijadwalkan berlangsung di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, pada Selasa, 31 Maret 2026. Kelima profesor ini akan mempresentasikan hasil riset unggulan yang berpotensi besar dalam memberikan solusi konkret bagi upaya pembangunan berkelanjutan di Indonesia, seperti dilansir dari Medcom.

Pengukuhan ini menegaskan komitmen BRIN dalam menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Inisiatif ini mencakup berbagai bidang, mulai dari kebijakan sosial hingga pengelolaan sumber daya alam dan pesisir.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, Mu’man Nuryana, menjadi pembicara pertama dengan orasi mengenai pentingnya transformasi tata kelola kesejahteraan sosial. Ia menekankan pendekatan kolaboratif dan merumuskan Model Orkestrasi Ekosistem. Kerangka inovatif ini menyinergikan aktor, pengetahuan, dan pembelajaran kebijakan secara inklusif, adaptif, serta berkelanjutan.

Mu’man menyoroti peran komunitas sebagai produsen kesejahteraan, sementara negara berfungsi sebagai pemungkin. Ia menegaskan, “Dengan menempatkan komunitas sebagai produsen kesejahteraan dan negara sebagai pemungkin, model ini menawarkan arah transformasi kebijakan sosial berbasis kolaborasi, nilai lokal, dan keadilan sosial di Indonesia.” Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan tertulis pada Senin, 30 Maret 2026.

Sementara itu, Robet Asnawi menghadirkan inovasi di sektor pertanian melalui pendekatan ekonomi sirkuler. Risetnya mengembangkan sistem tanam ganda (double row) pada ubi kayu yang berhasil meningkatkan produktivitas lebih dari 100 persen. Pemanfaatan biomassa juga berkontribusi pada peningkatan produktivitas hingga 17,26 persen dan pendapatan petani sebesar 48,43 persen.

Robet juga mengusulkan penetapan harga dasar ubi kayu yang transparan dan penguatan kemitraan antara petani serta industri. Langkah ini krusial untuk menjaga keberlanjutan rantai pasok. Menurut Robet, transformasi agribisnis ubi kayu harus dilakukan terpadu dari hulu ke hilir. Ia menambahkan, “Karena itu, diperlukan harga dasar yang transparan dengan mempertimbangkan biaya produksi, kadar pati, dan harga tapioka. Kemitraan inklusif petani dan industri penting untuk memperkuat rantai pasok dan menjaga keberlanjutan usaha.”

Pengelolaan Lingkungan dan Pesisir

Di bidang pesisir, Taslim Arifin menyoroti penguatan daya dukung ekologi melalui pengembangan Indeks Daya Dukung Ekologi (IDDE). Instrumen ini berfungsi untuk mengukur kapasitas ekosistem dalam mendukung aktivitas manusia tanpa mengganggu fungsi ekologisnya. Ia juga menekankan nilai ekonomi terumbu karang yang signifikan dari sektor pariwisata, perikanan, dan perlindungan pantai, sehingga pengelolaan berbasis sains sangat penting dalam mendukung ekonomi biru.

Taslim menyebutkan bahwa terumbu karang menyumbang sekitar USD3,1 miliar per tahun dari pariwisata, USD2,9 miliar per tahun dari perikanan, dan USD639 juta per tahun untuk perlindungan pantai. “IDDE berperan penting dalam menekan laju degradasi dan meningkatkan nilai ekologis terumbu karang sehingga memperkuat basis ilmiah untuk tata kelola ruang laut mendukung ekonomi biru,” tutur Taslim.

Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho berkontribusi dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan pendekatan sistem sosio-teknis. Ia mengembangkan model pengelolaan DAS mikro partisipatif, teknik konservasi tanah dan air berbasis lokal, serta berbagai instrumen monitoring seperti ATHUS, ModATHUS, WaterQ, dan SI PUBER. Inovasi ini mendukung perencanaan berbasis data, sistem peringatan dini bencana, serta kebijakan pengelolaan DAS yang adaptif dan inklusif.

Sementara itu, Aprijanto menyoroti tantangan kawasan pesisir dan pelabuhan akibat perubahan iklim, kenaikan muka laut, dan penurunan tanah. Ia mengembangkan teknologi adaptif berbasis hidrodinamika yang mencakup pemodelan arus, gelombang, banjir rob, serta sedimentasi. Risetnya juga mengintegrasikan kecerdasan buatan dan data spasial untuk mendukung sistem peringatan dini dan pengembangan konsep Smart serta Green Port. Aprijanto menambahkan bahwa pendekatan Technology Readiness Level (TRL), Socio Technical System (STS), dan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) menjadi penghubung antara riset dan implementasi kebijakan.

Hal ini penting guna memastikan hasil riset dapat diadopsi secara luas dalam tata kelola pesisir yang adaptif, berkelanjutan, dan berdaya saing nasional. Kelima profesor riset baru ini menegaskan peran strategis BRIN dalam menghasilkan riset unggulan yang memberikan solusi nyata bagi berbagai tantangan pembangunan nasional, mulai dari kesejahteraan sosial, ketahanan pangan, hingga pengelolaan sumber daya alam dan pesisir.

Recommended