Departemen Perang Amerika Serikat melalui Kepala Pejabat Teknologi, Emil Michael, secara resmi mengonfirmasi penggunaan senjata energi terarah atau Directed Energy Weapon (DEW) dalam jajaran persenjataan militer mereka pada Senin (4/5/2026).
Pengumuman yang disampaikan melalui platform media sosial X tersebut menunjukkan kecanggihan instrumen perang yang mampu melumpuhkan perangkat elektronik drone hingga menyasar personel lawan menggunakan sinar terfokus.
Dilansir dari Detik iNET, senjata ini bekerja dengan memancarkan energi elektromagnetik pekat atau partikel subatomik yang bergerak dengan kecepatan cahaya untuk menetralisir ancaman di medan tempur.
"Senjata energi terarah adalah tambahan yang bagus untuk persenjataan kami…" kata Emil Michael, Kepala Pejabat Teknologi Departemen Perang AS dalam unggahannya yang menyertakan visual sistem senjata Locust X3.
Langkah Pentagon ini sekaligus memberikan kepastian atas rumor bertahun-tahun mengenai pengembangan teknologi persenjataan yang sebelumnya dianggap hanya ada dalam fiksi ilmiah.
Data anggaran menunjukkan bahwa Pentagon secara agresif meningkatkan kapasitas tempur ini dengan mengajukan dana sebesar 789,7 juta dolar AS untuk tahun fiskal 2025 guna mendukung kampanye pengembangan DEW.
Dalam pengembangannya, pemerintah bekerja sama dengan perusahaan teknologi pertahanan luar seperti AeroVironment untuk memproduksi perangkat yang mampu menghancurkan drone secara instan.
Konfirmasi resmi ini juga memicu kembali pembahasan mengenai laporan mendiang ilmuwan Amy Eskridge yang sebelumnya memperingatkan bahaya teknologi tersebut sebelum kematiannya pada 2022.
Franc Milburn, seorang pensiunan perwira intelijen Inggris, sempat menyerahkan temuan ke Kongres AS pada 2023 terkait dugaan serangan gelombang mikro yang dialami peneliti sebelum dinyatakan meninggal dunia.
Eskridge merupakan satu dari belas ilmuwan Amerika Serikat yang tercatat meninggal dunia atau menghilang setelah melakukan penelitian mendalam mengenai Fenomena Anomali Tak Dikenal (UAP) dan keamanan nasional.